Hidayatullah.com—Aksi protes terkait kasus Freddie Gray, pemuda kulit hitam yang meninggal dunia akibat terluka saat berada di dalam tahanan kepolisian Baltimore, meluas ke berbagai kota di Amerika Serikat.
Beberapa ratus orang berunjuk rasa di Union Square kota New York, di mana polisi menangkap sedikitnya 60 orang, lapor BBC Rabu (30/4/2015).
Unjuk rasa juga dilakukan warga di ibukota Washington DC, Boston dan Minneapolis.
Perdebatan nasional soal penggunaan kekuatan oleh kepolisian telah terjadi sejak musim panas lalu, ketika seorang pemuda kulit hitam tewas akibat tembakan polisi kulit putih di Ferguson, Missouri.
Departemen Kehakiman AS telah memulai investigasi atas kematian Gray, yang menderita luka parah di bagian tulang belakan saat berada dalam tahanan polisi.
Pemakaman Gray hari Senin kemarin (28/4/2015) disusul dengan unjuk rasa meluas, disertai dengan aksi penjarahan dan pembakaran kendaraan aparat.
Oleh karena itu, pemerintah Baltimore kemudian memberlakukan jam malam di jalan-jalan kota yang berlaku dari pukul 22:00 hingga pukul 05:00.
Beberapa jam sebelum jam malam hari kedua diberlakukan pada Rabu malam, sekelompok besar orang bergerak di jalan-jalan menyusuri kota Baltimore untuk memprotes kebrutalan polisi. [Baca juga: Kerusuhan menyusul kematian tahanan kulit hitam di tangan polisi, Baltimore berlakukan jam malam]
Di New York, di mana para pengunjuk rasa menyatakan aksinya sebagai solidaritas kepada warga Baltimore, orang-orang berteriak “tidak ada keadilan, tidak ada perdamaian” dan “angkat tangan, jangan tembak”.
Bagaimana Gray bisa mengalami luka-luka yang menyebabkan kematiannya hingga saat ini belum jelas. Selain penyelidikan oleh Departemen Kehakiman AS, sebuah penyelidikan terpisah dilakukan secara internal oleh polisi.
Hasil awal dari penyelidikan polisi tersebut tidak akan dirilis pada hari Jumat besok, seperti yang diharapkan sebelumnya.
Enam orang anggota polisi telah ditangguhkan gajinya sambil dilakukan penyelidikan.*