Hidayatullah.com–Ada hal menarik yang terjadi di Swaziland, negara monarki yang masih berlangsung di Afrika. Pada Senin (24/12/2012) pihak kepolisian di negara itu melarang wanita mengenakan rok mini dan pakaian yang memperlihatkan perutnya karena pakaian semacam itu memprovokasi pemerkosaan. Demikian media lokal melaporkan.
Sayangnya upaya yang dilakukan pihak kepolisan tidak sejalan dengan upacara-upacara tradisional kerajaan, yang dalam tari-tariannya justru menampilkan wanita-wanita muda nyaris telanjang.
Terhadap aturan dari pihak kepolisian tersebut memiliki ancaman hukuman penjara enam bulan bagi pelanggarnya. Ancaman hukuman ini mengacu pada aturan di masa kolonial tahun 1889.
“Para pemerkosa cukup mudah dalam bertindak, hanya menariknya saja bagi bagi wanita yang setengah berpakaian,” kata juru bicara polisi Wendy Hleta, seperti dikutip berita online Independen.
Larangan tersebut juga berlaku bagi pengguna rok jins yang pendek. “Mereka akan ditangkap,” katanya.
Hleta mengatakan, wanita yang mengenakan pakaian semacam itu bertanggung jawab atas serangan atau perkosaan yang dilakukan terhadap mereka.
“Saya telah membaca dari jaringan sosial, bahwa laki-laki dan bahkan juga perempuan, dalam mata mereka tergambarkan ‘membuka baju orang’. Itu menjadi lebih nyata bila sang wanita berpakaian ketat atau sedikit memperlihatkan,” kata Hleta.
Namun, larangan tersebut tidak berlaku untuk kostum tradisional yang dikenakan oleh para gadis muda, seperti dalam upacara tahunan Tari Reed, saat Raja Mswati III yang memerintah memilih seorang istri.
Raja flamboyan berusia 44 tahun itu kini sudah memiliki 13 istri. Ia hidup mewah dengan memiliki pesawat jet pribadi di tengah rakyatnya yang miskin.
Dalam upacara tersebut, para gadis menari dengan memperlihatkan sebagian besar tubuhnya. Bahkan tidak boleh memakai pakaian dalaman.
Hukum yang dibuat kepolisian itu ditegakkan, setelah protes para perempuan dan gadis-gadis muda pada bulan lalu menyerukan perlindungan akibat terjadi serentetan pemerkosaan di kerajaan miskin itu, yang berada di tengah-tengah Afrika Selatan.
Menurut laporan media, pawai dijaga oleh polisi.*