Hidayatullah.com–Seorang demonstran bersenjatakan sebilah pisau mengamuk di acara Gay Parade (Parade Homo) yang diselenggarakan di Yerusalem pada 30 Juli silam. Pria tersebut menusuk lima pria lainnya dan seorang wanita dalam insiden tersebut. Menurut seorang saksi mata, penyerang yang diidentifikasi bernama Yishai Schlissel, bersembunyi di supermarket yang ada di jalur parade.
Mereka menceritakan bahwa Schlissel berlari sambil berteriak ke arah iring-iringan peserta parade, kemudian menusuk orang-orang secara membabi buta, demikian dikutip laman theguardian.com, Jumat (31/07/2015).
Schlissel sendiri adalah seorang penganut fanatik Yahudi Ortodox yang baru tiga minggu bebas dari penjara setelah dijebloskan ke balik jeruji besi untukuk kasus yang sama pada 2005.
Seorang fotografer Associated Press menjepret Schlissel, berjanggut dan memakai pakaian keagamaan Yahudi, tepat sebelum aksinya. Tampak Schlissel berjalan di tengah-tengah kerumunan dengan tangan di dalam jaket, menyembunyikan pisaunya dari pandangan.
Foto lainnya, diambil beberapa detik kemudian, menunjukkan dirinya berlari diantara orang-orang dengan polisi mengejarnya, dengan senjata teracung.
Seorang paramedis bernama Hanoch Zelinger, yang merawat para korban di TKP, mengatakan bahwa seorang wanita telah terluka serius, dengan luka tusuk di punggung, dada, dan leher.
Pawai tersebut, yang selalu diikuti ribuan peserta, telah lama menjadi fokus dari perdebatan antara aliran sekuler yang dominan dan kelompok minoritas Yahudi Ortodox di Israel, yang menentang homoseksual. Meski begitu, selama bertahun-tahun, pawai serupa telah berlangsung tanpa insiden berarti di Tel-Aviv.
Ini bukanlah aksi Schlissel yang pertama. Pada 2005, penduduk Modiin Ilit (sebuah pemukiman di Tepi Barat), menusuk tiga orang pada event serupa. Pengadilan kemudian memvonisnya 12 tahun penjara atas tuduhan percobaan pembunuhan. Schlissel bebas lebih cepat dua tahun dari vonisnya, kemungkinan karena menerima remisi. Menurut media-media Israel, setelah kebebasannya, Schlissel membagikan selebaran yang dibuat dengan tulisan tangan berisi seruan bahwa “Para Yahudi taat pada Tuhan” dan mengajak orang untukuk berani menerima pukulan dan hukuman penjara demi batalnya pawai tersebut.
Selepas dibawanya para korban ke rumah sakit, Parade Homo tersebut kembali berlangsung dengan para peserta berteriak “Akhiri Kekerasan.”
Insiden ini menunjukkan bahwa sesungguhnya tidak ada agama yang mendukung gerakan LGBT (Lesbian, Homoseksual, Bisexual, and Transexual).*/Tika Af’idah