Hidayatullah.com—Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyebut serangan atas sebuah klub malam kaum homoseksual di Orlando, Florida, sebagai tindakan teror dan pembunuhan brutal yang mematikan puluhan orang tak bersalah.
Rakyat Amerika bersatu dalam “duka, kemarahan dan tekad untuk membela bangsa kita,” kata Presiden AS itu.
Omar Mateen, 29, menewaskan 50 orang dan melukai 53 orang lainnya di klub malam kaum gay Pulse sebelum akhirnya dia ditembak mati oleh polisi.
Serangan hari Minggu pagi (12/6/2016) itu merupakan aksi penembakan massal paling buruk dalam sejarah Amerika Serikat, tulis BBC.
Sejauh ini delapan orang korban telah berhasil diidentifikasi. Mereka adalah Edward Sotomayor Jr, Stanley Almodovar III, Luis Omar Ocasio-Capo, Juan Ramon Guerrero, Eric Ivan Ortiz-Rivera, Peter O Gonzalez-Cruz, Luis S Vielma dan Kimberly Morris. Dari nama-nama korban sepertinya klub gay itu banyak dikunjungi orang-orang keturunan Amerika Latin.
Obama mengatakan “pembunuhan brutal atas puluhan orang tak bersalah” itu merupakan peringatan lebih lanjut betapa mudahnya untuk mendapatkan senjata mematikan di AS dan menembak orang.
“Kita harus memutuskan apakah seperti itu negara yang kita inginkan,” kata Obama yang mendukung diberlakukannya undang-undang kepemilikan senjata api lebih ketat.
Lebih lanjut Presiden AS itu mengatakan bahwa hari itu adalah hari yang menyedihkan bagi komunitas LGBT, dan serangan terhadap orang Amerika siapapun berarti serangan terhadap seluruh rakyat.
Obama memerintahkan agar bendera setengah tiang dikibarkan di gedung-gedung pemerintah federal sampai hari Kamis petang mendatang.
Mateen adalah seorang warganegara Amerika Serikat keturunan Afghanistan. Dia dilahirkan di New York dan tinggal di Florida. Mateen tidak tercatat dalam daftar orang-orang yang harus diawasi terkait terorisme.
Sejumlah pejabat mengungkap bahwa FBI pernah dua kali menanyainya pada 2013-2014 setelah dia membuat “pernyataan yang membuat orang marah” terhadap seorang rekannya. Namun, petugas kemudian menutup kasus itu.
Diketahui kemudian Mateen membeli sejumlah senjata api secara legal beberapa hari lalu.
Mateen bekerja untuk perusahaan sekuriti G4S, perusahaan sekuriti yang dikenal sebagai pendukung Zionis. Pihak perusahaan mengatakan dia telah bekerja untuk G4S selama 9 tahun dan membawa senjata api adalah bagian dari pekerjaannya.
Bekas istrinya mengatakan kepada Washington Post bahwa Mateen adalah pria yang “tidak stabil” dan bertemperamen kasar. Semasa pernikahan itu, yang hanya bertahan seumur jagung alias tidak lama, wanita itu mengaku mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).*