Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Jenderal Polisi Afghanistan di Kandahar Melawan Pakistan dengan Mata Uang

Ama Farah
Terakhir diupdate: 8 Agustus 2016 08:41 8:41 am
Ama Farah
Dipublikasikan 8 Agustus 2016 07:42
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Seorang jenderal dari Kepolisian Afghanistan yang merupakan salah satu orang paling berpengaruh di negara itu melarang penggunaan mata uang rupee Pakistan di Provinsi Kandahar.

Kepala Kepolisian Kandahar Jenderal Abdul Raziq mengatakan dia menyatakan penggunaan mata uang rupee Pakistan dalam transaksi bisnis di wilayahnya sebagai tindak kriminal. Namun, dia belum memutuskan apa hukuman yang akan diberikan kepada pelanggarnya.

Rupee banyak dipakai di wilayah Afghanistan bagian timur dan selatan yang berbatasan dengan Pakistan. Sementara mata uang Iran dipakai di provinsi-provinsi yang berbatasan dengan negara Syiah itu.

“Saya tidak menentang bisnis, tetapi saya tidak ingin ada mata uang lain digunakan di negara kami, khususnya mata uang Pakistan dan Iran,” kata Raziq kepada Associated Press Ahad (8/8/2016).

Larangan itu berlaku sejak pekan lalu. Para pelaku usaha mengatakan kebijakan itu langsung memberikan pengaruh berupa penguatan nilai mata uang Afghanistan beberapa hari terakhir.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Ini kabar sangat baik sekali, sebab orang-orang di sini kebingungan tentang mata uang apa yang harus mereka gunakan dan simpan,” kata seorang tetua suku dan pengusaha di Kandahar, Ahmad Shah Khan.

Menurut Khan, mata uang Afghanistan nilainya menguat menjadi 560 untuk 1.000 rupee Pakistan dari 630 untuk setiap 1.000 rupee sebelum kebijakan tersebut diberlakukan. Nilai mata uang Afghanistan juga menguat terhadap dolar, dari 68 menjadi 65 afghani sejak kebijakan baru itu diberlakukan, kata para pedagang. Nilai tukar resmi saat ini 67,5 afghani untuk 1 dolar AS.

Azrakhsh Hafizi, ketua komite hubungan internasional di Kamar Dagang dan Industri Afghanistan, menyambut baik keputusan Raziq itu dan mendesak agar para pejabat di seluruh Afghanistan mengikuti langkah tersebut.

Menurut Hafizi, penggunaan mata uang dolar Amerika dalam transaksi di bagian lain negeri itu, termasuk Kabul, seharusnya juga dilarang.

“Bank sentral hampir setiap pekan membeli afghani di pasar demi menjaga stabilitas mata uang Afghanistan, tetapi jika hanya menggunakan mata uang Afghanistan di seluruh penjuru negeri maka hal itu tidak perlu dilakukan lagi,” kata Hafizi.

Raziq mengatakan larangan penggunaan mata uang Pakistan itu merupakan balasan atas negara tetangga tersebut yang memberikan perlindungan terhadap Taliban, sebuah tuduhan yang dibantah Islamabad.

“Pakistan tidak hanya menggunakan bom terhadap kami, mereka menggunakan setiap taktik lain yang bisa mereka lakukan untuk menghancurkan kami, dan itu termasuk pengusaha kami,” kata Raziq.

Otoritas Pakistan menahan barang-barang produksi Afghanistan, termasuk produk segar, di titik-titik perbatasan sampai buah-buahan dan sayur-mayur membusuk, kata pejabat kepolisian itu.

Afghanistan belakangan menunjukkan tanda-tanda mulai melirik negara lain untuk mengimpor barang yang mereka perlukan, guna menekan Pakistan agar bersedia mendesak Taliban duduk di meja perundingan dalam rangka mengakhiri perang.

Impor gandum Afghanistan sebanyak total 2,4 juta ton tahun lalu, menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat, sebagian besar didatangkan dari Pakistan. Namun, kenaikan bea impor dari Pakistan yang diberlakukan otoritas Afghanistan memangkas volume impor tersebut, dan pelaku bisnis mulai beralih ke negara Asia Tengah.

Menurut Hafizi nilai impor dari Pakistan turun $700 juta sejak dimulainya tahun anggaran saat ini bulan Januari lalu.

Akibat peperangan berkepanjangan Afghanistan terjebak dalam krisis ekonomi yang sangat dalam, dengan pertumbuhan GDP nyaris nol. Pemerintah berupaya menaikkan pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan pekerjaan yang terhambat oleh ketidakmampuannya dalam memelihara stabilitas dan keamanan dalam negeri.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mensos Minta Kepolisian-BPOM Usut Tuntas Peredaran Snack “Bikini”
Tulisan selanjutnya Shalat di Sekolah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Berita
1 Juni 2026 13:00
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?