Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Lagi, Wanita Australia Diusir dari Pantai Prancis karena Pakai Burkini

Ama Farah
Terakhir diupdate: 20 September 2016 16:14 4:14 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 20 September 2016 16:14
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Seorang mahasiswi kedokteran asal Australia mengungkapkan bahwa ia dan ibunya diusir dari sebuah pantai di kawasan Riviera, Prancis, karena mengenakan pakaian renang tertutup, atau yang juga dikenal dengan burkini.

Zeynab Alshelh, seorang mahasiswa kedokteran nerusia 23 tahun mengatakan kepada media Australia, dia sengaja melakukan perjalanan ke Eropa untuk menunjukkan solidaritas kepada perempuan Muslim di sana.

Rekaman yang disiarkan di Sunday Night di Channel 7 menunjukkan masyarakat setempat di pantai itu mengatakan mereka akan memanggil polisi jika Alshelh tidak meninggalkan pantai, demikian dikutip BBC, Senin (19/09/2016).

“Saya ingin melihatnya sendiri, saya ingin melihat apa yang terjadi di sini? Mengapa hal ini terjadi?” katanya, menambahkan bahwa dalam pandangannya, larangan itu “konyol, hal itu tidak masuk akal bagi saya, ” ujar Zaenab dikutip CNN.

Didampingi oleh seorang kru TV, Alshelh mengunjungi pantai Villeneuve-Loubet, salah satu pantai di mana larangan burkini baru-baru ini dicabut.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Namun, ia beserta ibu dan ayahnya tidak dapat menikmati indahnya laut biru dan hangatnya siraman matahari dari tepi pantai, setelah warga lokal memberitahu bahwa mereka tidak diterima di pantai itu.

Rekaman yang disiarkan pada program Sunday Night di Channel 7 memperlihatkan para pengunjung pantai lainnya menatap keluarga dari Australia itu. Beberapa pengunjung bahkan mengacungkan ibu jari ke bawah, tanda ketidaksukaan mereka, sementara satu pengunjung lain kemudian mendekat dan secara langsung memprotes Alshelh dan keluarganya.

“Kami diancam oleh penduduk setempat untuk meninggalkan pantai. Jika tidak, mereka akan menelepon polisi. Mereka tidak senang kami berada di sana,” ujarnya.

Prancis Larang Burkini, Skotlandia dan Kanada Justru Bolehkan Polwan Berjilbab

Hingga saat ini, sudah lebih dari 30 pantai di Prancis, sebagian besar di sepanjang pantai tenggara, memberlakukan larangan burkini sejak awal musim panas lalu. Larangan ini diberlakukan menyusul serangan teror truk bertepatan dengan hari nasional Prancis, Bastille Day, yang menewaskan 86 orang.

Pihak berwenang di Nice berpendapat bahwa Burkini “secara terang-terangan menunjukkan keyakinan sebuah agama, yang dapat diartikan bahwa sang pemakai merupakan seorang fundamentalis agama.” Hal ini dinilai berlawanan dengan sistem sekularisme yang dianut Prancis. Menurut otoritas Nice, pelarangan semaca itu dibenarkan karena warga di wilayah itu masih trauma dengan serangan teror truk tersebut.

Alshelh menegaskan kepada Channel 7 bahwa “seharusnya tidak ada hubungan antara terorisme dan burkini, tidak ada hubungan antara terorisme dan Islam, sama sekali.”

Sebelum ini, karangan burkini di beberapa kota Riviera Prancis telah dibatalkan oleh Mahkamah Agung Prancis, pada bulan Agustus.

Wali Kota London Kritik Pelarangan Burkini di Prancis

Desainer Muslim asal Australia, yang juga perancang burkini pertama kali, Aheda Zanetti, sebelumnya sempat mengatakan kepada CNN bahwa ia geram baju renang yang ia rancang “disalahartikan.” Padahal, ia merancang pakaian renang semacam itu untuk tujuan positif, agar para wanita yang tak ingin bagian tubuhnya terlihat dapat berenang secara leluasa.

Alshelh mengaku sedih, dan menilai bahwa larangan burkini hanyalah awal dari diskriminasi terhadap Muslim.

“[Diskriminasi] ini dimulai di pantai, dan hanya Tuhan yang tahu kapan akan berakhir,” ujarnya.

Sebelum ini,  Selasa (23/08/2016), laman dailymail.co.uk mengunggah foto-foto aparat yang memperlakukan para Muslimah saat berjemur dan berenang di pantai.

Standar Ganda Eropa: Burkini Dilarang, Baju Biarawati Bebas

Empat aparat kepolisian berbadan kekar mendatang wanita Muslim dan meminta menanggalkan pakaian. Kejadian ini menjadi lelocon di berbagai belahan dunia, bagaimana sikap rasis bagi bangsa yang selama ini bangga menyebut dirinya sebagai Negara sekuler.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BurkiniburqiniEropaPrancissekularisme Prancis
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Australia Mengaku Lanjutkan Terlibat dalam Serangan Udara di Suriah
Tulisan selanjutnya Nama yang Membawa ‘Berkah’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Berita
1 Juni 2026 13:00
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Terbaru

  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?