Hidayatullah.com—Mahasiswa-mahasiswa Muslim yang mengunjungi kantor anggota dewan negara bagian Oklahoma, Amerika Serikat, diwajibkan mengisi formulir yang menanyakan apakah mereka memukul istrinya, serta pertanyaan-pertanyaan lain yang menyinggung perasaan, kata sebuah kelompok advokasi Muslim.
Council on American-Islamic Relations (CAIR) menunjukkan formulir dua lembar yang diberikan oleh kantor John Bennett, anggota dewan dari Partai Republik. Formulir itu juga menanyakan apakah mereka berkeyakinan sesuai dengan Islam bahwa orang yang meninggalkan keimanannya harus dihukum dan apakah Muslim harus menjadi penguasa atas orang-orang non-Muslim.
Seorang staf Bennett membagikan formulir itu kepada para mahasiswa Muslim yang mengunjungi kantornya hari Kamis (2/3/2017), kata Adam Soltani, direktur eksekutif CAIR cabang Oklahoma. Formulir itu wajib diisi sebelum mereka diperbolehkan menemui Bennett, imbuh Soltani.
Mahasiswa-mahasiswa Muslim tersebut mengunjungi gedung parlemen Oklahoma dalam rangka kegiatan tahunan Muslim Day yang digelar CAIR, guna memperkenalkan warga kepada wakil rakyat yang duduk di dewan legislatif setempat, serta untuk lebih mendorong mereka terlibat dalam demokrasi, kata Soltani lewat sambungan telepon hari Sabtu (4/3/2017).
Dalam email konfirmasi kepada koran Tulsa World, Bennett mengatakan bahwa tiga mahasiswa Muslim yang mengunjungi kantornya hari Kamis lalu, sebagai bagian dari kegiatan Muslim Day di gedung dewan perwakilan setempat, memang diberikan daftar isian, berikut sejumlah hal lain, yang menayakan “apakah Anda memukul istri Anda?”
Anggota dewan Oklahoma itu mengatakan hukum Islam dan al-Qur`an memperbolehkan Muslim untuk memukuli istri, meskipun “ini bukan berarti pasti semua Muslim memukul istrinya,” tulis Bennett dalam emailnya seperti dilaporkan Tulsa World.
Walaupun sudah berulang kali dimintai komentar perihal laporan itu, Bennett dan Partai Republik Oklahoma tidak bersedia menanggapi, tulis Reuters.
Para mahasiswa yang mendatangi kantor bekas anggota marinir AS itu diberitahu bahwa dia sedang keluar kantor dan mereka tidak pernah berbicara dengan wakil rakyat itu, kata Soltani.
“Hal yang paling membuat geram adalah pertanyaan-pertanyaan itu, dan fakta bahwa Muslim harus lebih dulu lulus tes keagamaan untuk bertemu dengan wakil rakyat di daerah kami. Pastinya dia tidak melakukan hal tersebut terhadap konstituen-konstituennya yang beragama Kristen atau Yahudi,” kata Soltani.
Ini bukan pertama kalinya Bennett menerima kritikan perihal pernyataan atau sikapnya terhadap Muslim.
Dalam pidato tahun 2004, pensiunan marinir yang menjadi politisi itu mengatakan bahwa dia sudah pernah membaca al-Qur`an dan hadits-hadists Nabi Muhammad, dan itu “90 persen isinya kekerasan.”
“Jika saya disebut sebagai seorang islamofobi dan berbicara kebenaran tentang Islam, maka Anda betul sekali,” kata Bennett dalam pidato itu, yang rekamannya dimiliki oleh koran Tulsa World.
Kepala di lembaran formilir tersebut menyebutkan bahwa itu adalah daftar isian dari ACT for America, sebuah organisasi nasional yang disebut oleh Southern Poverty Law Center sebagai kelompok akar rumput anti-Muslim terbesar di Amerika Serikat.
Perwakilan cabang dari organisasi itu di Oklahoma tidak bersedia menjawab email yang dikirim untuk meminta komentarnya, tulis Reuters.*