Hidayatullah.com–Dua wartawan asing yang bekerja untuk kantor media Turki ditahan selama lebih dari 24 jam karena menerbangkan drone di atas gedung parlemen di Ibu Kota Myanmar, ungkap pemerintah pada Sabtu (28/10/2017).
Kejadian berlangsung di tengah memuncaknya ketegangan antara Myanmar dan Turki, yang mengecam negara Asia Tenggara itu karena perlakuan kejam mereka terhadap minoritas muslim Rohingya.
Bulan lalu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuding Myanmar mendalangi “teror dari warga Buddha” dan melancarkan aksi genosida terhadap kelompok muslim tersebut.
Baca: Mimpi Pria Ini untuk Naik Haji Terwujud Karena Temukan Drone
Lau Hon Meng dari Singapura (43) dan Mok Choy Lin dari Malaysia (47)–keduanya bekerja penyiar negara Turki, TRT World— ditahan tak lama setelah mereka menerbangkan pesawat tak berawak di dekat kompleks parlemen hari Jumat.
Kementerian Informasi Myanmar mengumumkan penahanan mereka melalui halaman Facebook-nya pada Jumat (27/10/2017) malam, saat mempublikasikan gambar-gambar pesawat tak berawak dan visa sang wartawan.
“Sekarang mereka menghadapi tuduhan berdasarkan Undang-Undang Impor dan Ekspor karena menerbangkan dan mengimpor drone ke negara tersebut tanpa izin,” kata Sann Aung, petugas poliri di Kota Zebu Thiri, dikutip Anadolu.
“Berdasarkan penyelidikan yang tengah berlangsung, mereka mungkin akan menghadapi tuntutan lebih lanjut,” ujar Sann Aung kepada Anadolu Agency melalui telepon.
Sopir mereka Hla Tin dan juru bahasa lokal, wartawan Aung Naing Soe, juga ditahan.
Hari Sabtu (28/10/2017) siang, Tun Tun Win, seorang petugas polisi di kantor polisi Myoma di Naypyitaw, mengatakan kepada The Straits Times, kedua wartawan itu masih di kantor polisi dan akan dijerat UU Impor-Ekspor.
Berdasarkan undang-undang ini, siapa saja yang mengekspor atau mengimpor barang terlarang atau dapat dipenjara hingga tiga tahun atau denda. Myanmar tidak memiliki undang-undang khusus mengenai pesawat tak berawak.
Kementerian Luar Negeri Myanmar telah menginformasikan pada Kedutaan Besar Singapura dan Malaysia di Yangon mengenai kasus ini.
Sekitar 20 orang polisi menggerebek rumah fixer Aung Naing Soe di Yangon pada Jumat malam, menyita computer dan memori stick. Polisi mengatakan pihaknya akan segera mengadakan konferensi pers.*