Hidayatullah.com–Lebih 100 aktivis Inggris melakukan aksi berjalan kaki selama enam bulan (174 hari) dari Inggris menuju Baitul Maqdis untuk meminta maaf kepada Palestina karena Deklarasi Balfour, deklarasi yang dibuat pemerintah Inggris 100 tahun lalu, sebagai cikal bakal munculnya Israel.
Para aktivis itu melancarkan kampanye penolakan atas pendudukan Zionis-Israel. Pemerintah Palestina mengancam akan menggunakan pengadilan internasional untuk mengadili Inggris jika mereka bersikeras merayakan kesempatan tersebut dan tidak meminta maaf kepada orang-orang Palestina.
Chris, peserta aksi, berjalan ribuan kilometer melintasi 11 negara ke Palestina, menyatakan bahwa mereka menentang pakta yang dirilis Menteri Luar Negeri Arthur James Balfour kepada orang Yahudi seratus tahun itu, lansir Al Arabiya Ahad (29/10/2017).
Elias Dais, anggota Sekretariat Tanah Suci, menjelaskan bagaimana sepanjang tahun mereka mempertemukan kelompok serupa untuk meningkatkan kesadaran akan dampak buruk pendudukan. Penduduk desa dan anak-anak Palestina di wilayah pendudukan menyambut kelompok Inggris dalam tur mereka.
Sementara itu, Pemerintah Inggris sendiri sampai saat ini masih terus memperingati dirilisnya Deklarasi Balfour.
Deklarasi Balfour adalah surat tertanggal 2 November 1917 dari Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur James Balfour kepada pemimpin komunitas Yahudi Inggris, Lord Rothschild untuk dikirimkan kepada Federasi Zionis.
Surat itu menyatakan sikap yang dimufakati oleh Rapat Kabinet Inggris pada 31 Oktober 1917 bahwa pemerintah Inggris mendukung rencana-rencana zionis untuk membuat ‘tanah air’ bagi Yahudi di Palestina, dengan syarat Zionis tidak melakukan hal-hal yang mungkin merugikan hak-hak dari komunitas-komunitas yang ada di sana.
Deklarasi itu membuktikan, Inggris menyetujui berdirinya pemerintahan Yahudi di Palestina dan memberi bantuan dalam pembentukan negara tersebut. Lalu pada 1948, David Ben-Gurion membacakan proklamasi berdirinya negara bangsa Yahudi di Palestina yang diberi nama Israel. Setelah itu, terjadilah “pengusiran” besar-besaran terhadap rakyat palestina dari Tanah Air yang telah menjadi hak mereka selama bertahun-tahun.
Termasuk yang menjadi puncak penjajahan itu, pada tanggal 5 Juni 1967, penjajah Zionis Yahudi merampas Masjidil Aqsha, salah satu masjid terpenting dalam aqidah tauhid dan warisan umat Islam sedunia.
Kunjungan delegasi Inggris ini sekaligus menjadi pesan kritik kepada pemerintah mereka yang beberapa hari lalu melalui Perdana Menteri Britania Raya dan Ketua Partai Konservatif Theresa May mengungkapkan kebanggaannya atas lahirnya Deklarasi Balfour serta peran negaranya dalam mendirikan negara palsu bernama Israel.
Delegasi itu akan berada di Palestina hingga hari Jum’at mendatang. Selama di Palestina, mereka akan mengunjungi daerah-daerah penting di Palestina, seperti Kota Tua Al-Khalil, Bayt Lahm, Negev, Baitul Maqdis dan Ramallah.
April lalu, sebanyak 220 delegasi dari berbagai negara menandatangani memorandum yang menuntut Inggris meminta maaf atas Deklarasi Balfour.
Baca: Pemerintah Inggris Tolak Minta Maaf pada Palestina Terkait Deklarasi
Para penandatangan petisi dilakukan dalam sebuah konferensi yang digelar di Kairo dari 4-6 April lalu. Konferensi itu dihadiri para pemuka dari negara-negara Arab dan Muslim.
Petisi itu antara lain ditandatangani oleh anggota parlemen, para pelajar, akademisi, wartawan, politikus, pemimpin asosiasi, dokter, insinyur serta penulis dari berbagai negara Arab, Islam dan Barat.
Kampanye yang menuntut permintaan maaf Inggris atas Deklarasi Balfour itu diluncurkan secara resmi di London pada 19 Januari 2017 saat konferensi akademis yang diselenggarakkan oleh Palestinian Return Center.
Kampanye ini ditujukan untuk mengumpulkan satu juta tanda tangan dalam waktu lima tahun yang akan disampaikan kepada pemerintah Inggris agar meminta maaf kepada rakyat Palestina terkait Deklarasi Balfour.*