Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Prancis Turunkan Usia Wajib Sekolah Menjadi 3 Tahun

Ama Farah
Terakhir diupdate: 28 Maret 2018 08:14 8:14 am
Ama Farah
Dipublikasikan 28 Maret 2018 08:14
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Anak-anak di Prancis akan memulai masa sekolah lebih dini pada usia 3 tahun dan bukan lagi enam tahun, demikian menurut kebijakan baru yang ditetapkan Presiden Emmanuel Macron.

Perubahan ini akan menjadikan Prancis sebagai salah satu negara Eropa yang mewajibkan anak masuk sekolah dalam usia sangat dini.

Namun, kebijakan tersebut hanya akan mempengaruhi sebagian kecil anak, karena mayoritas keluarga di Prancis sudah memilih menyekolahkan anak-anaknya sejak usia 3 tahun. Menurut data pemerintah, hanya 2,4% anak yang tidak dimasukkan sekolah pada usia tiga tahun.

Macron mengatakan perubahan itu dimaksudkan untuk mengurangi ketidaksetaraan dalam pendidikan, sebab orangtua di daerah-daerah yang lebih miskin dan di teritori Prancis di luar negeri cenderung tidak menyekolahkan anaknya sejak usia dini.

Di Paris, 93% anak usia tiga tahun sudah disekolahkan, tetapi angka itu jauh lebih rendah di sejumlah teritori Prancis di seberang lautan, menurut Le Monde.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Saya harap dengan kewajiban ini, mulai awal tahun ajaran 2019, kita dapat … mengoreksi perbedaan yang tidak dapat diterima ini,” kata Macron dalam konferensi pers hari Selasa (27/3/2018) seperti dilansir BBC. Macron menyebut perubahan ini sebagai momen penting dalam sistem pendidikan Prancis.

Ada banyak perdebatan perihal kapan seharusnya anak memulai pendidikan formal.

Sebuah hasil studi yang diterbitkan tahun 2015 mendapati bahwa anak-anak yang memulai sekolah lebih tua cenderung kurang tak acuh atau kurang hiperaktif di kelas, atau dengan kata lain lebih fokus belajar.

Finlandia, Polandia dan Estonia, tiga negara Eropa yang paling sukses di bidang akademik, mewajibkan anak-anak sekolah sejak usia 7 tahun. Akan tetapi, di negara-negara itu, anak-anak kebanyakan sudah lebih dulu dimasukkan ke taman kanak-kanak di mana mereka belajar sambil bermain. Jumlah siswa di kelas juga umumnya lebih sedikit.

Berikut usia sekolah di sejumlah negara Eropa.

Empat: Irlandia Utara.

Lima: Siprus, England (Inggris), Malta, Skotlandia (Inggris), Wales (Inggris).

Enam: Austria, Belgia, Kroasia, Republik Ceko, Denmark, Jerman, Yunani, Hungaria, Islandia, Republik Irlandia, Italia, Liechtenstein, Luxembourg, Belanda, Norwegia, Portugal, Rumania, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Swiss, Turki.

Tujuh: Bulgaria, Estonia, Finlandia, Latvia, Lithuania, Polandia, Serbia, Swedia.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pahami Sejarahmu: Google Sudah jadi Kontraktor Intelijen Sejak Awal
Tulisan selanjutnya Dikira Kosong, Sarkofagus Mesir Berusia 2.500 Tahun Berisi Mumi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU

Berita
31 Agustus 2026 11:10
STAI Al Bayan Gelar Wisuda Angkatan II, Ketum DPP Hidayatullah Pesankan Alumni Kuatkan Takwa Hadapi Tantangan Zaman
Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman
Mengapa Kolombia Ingin Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’?
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?