Hidayatullah.com—Harga saham AirAsia Group Bhd melorot 10 persen hari Senin (14/5/2018) pada sesi perdagangan di bursa saham sejak Malaysia menggelar pemilu, dan setelah Tony Fernandes meminta maaf karena mendukung Najib Razak dalam pemilu tersebut.
AirAsia memiliki beberapa maskapai penerbangan di berbagai negara Asia, tetapi pasar di Malaysia –tempat kelahiran dan markas besarnya– memberikan sumbangan paling banyak terhadap pundi-pundi perusahaan.
Dua hari menjelang pemilu yang digelar hari Rabu (9/5/2018), Fernandes merilis rekaman video di mana dirinya memuji-muji Najib dan memuji dukungan pemerintahannya terhadap maskapai penerbangan berongkos murah yang didirikannya. Menyusul kemudian di hari yang sama, Najib memajang foto dirinya dan Fernandes sedang berdiri di depan sebuah pesawat AirAsia yang dicat dengan slogan kampanye koalisi Najib, lapor Reuters.
“Saya meminta maaf atas apa yang telah terjadi. Saya tunduk pada momen penting dalam sejarah kita,” kata Fernandes dalam rekaman video yang dirilis hari Ahad (13/5/2018). “Itu tidak benar dan saya akan menyesalinya selamanya.”
Fernandes mengatakan bahwa video yang diunggahnya itu untuk “mengademkan hati” pemerintahan Najib, yang kelabakan karena menghadapi pemilu. Fernandes mengaku mendapatkan tekanan karena dia menambah jumlah penerbangan dan memberikan diskon harga tiket di hari pemyelenggaraan pemilu, dan karena dia menolak memecat seorang pejabat AirAsia, Rafidah Aziz, yang memberikan dukungan kepada Mahathir.
“Seiring dengan popularitas Rafidah yang meningkat, tekanan itu semakin bertambah. Semakin lama semakin keras dan sulit untuk menahan tekanan dari kantor perdana menteri,” kata Fernandes.
Harga tiket murah yang diberikan AirAsia memudahkan peluang warga Malaysia pendukung Mahathir untuk pulang kampung dan memberikan suaranya. Oleh karena itu, pemerintah Najib pun semakin menekan dirinya, imbuh Fernandes.
“Dalam 24 jam, kami dipanggil oleh regulator Komisi Penerbangan Malaysia dan disuruh membatalkan semua penerbangan itu. Hal tersebut menjadikan kami berada dalam tekanan yang teramat keras,” kata Fernandes, seraya mengatakan bahwa perusahaannya menambah 120 penerbangan.
Sementara itu, pihak Komisi Penerbangan Malaysia dalam pernyataan di websitenya menganggap klaim Fernandes sebagai “tuduhan serius” dan pihaknya akan segera melakukan penyelidikan.*