Hidayatullah.com–Perusahaan media dan hubungan masyarakat wanita pertama dalam sejarah Kerajaan telah dibentuk dengan tujuan menyoroti peran wanita dalam melayani Dua Masjid Suci, demikian kutip Arab News.
Presidensi Umum Urusan Dua Masjid Suci (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi) mengumumkan langkah itu.
“Ini adalah langkah besar yang telah lama kami rindukan sejak setengah jamaah kebanyak perempuan. Ini adalah alasan yang bagus untuk mendirikan departemen yang sepenuhnya independen ini untuk menyoroti peran perempuan dalam Islam dan layanan yang mereka berikan dalam melayani para jamaah, ” ujar Dr. Mohammed Hindiya, Kepala Departemen Media di Universitas Umm Al-Qura mengatakan.
Dr. Salem Arija, Direktur Jenderal Hubungan Masyarakat dan Departemen Media di Presidensi Umum untuk Urusan Dua Masjid Sucik, mengatakan mereka ingin menyoroti peran penting yang dimainkan wanita Saudi dalam melayani Dua Masjid Suci.
“Inisiatif ini berasal dari keyakinan mendalam kami dalam peran pentingnya dalam melayani para jamaah,” tambahnya.
Baca: Layanan Terjemahan di Makkah dan Madinah Bantu Jamaah Haji dan Umrah
Dr. Arija menggarisbawahi bahwa langkah perintis bertujuan untuk memberdayakan perempuan di berbagai bidang media.
“Ini adalah peran penting yang akan menyoroti peran utama perempuan dalam melayani para jamaah dan mencapai tujuan memberikan layanan terbaik di bidang media dan hubungan masyarakat,” katanya.
Para wanita yang ditunjuk akan sangat berkualitas dan multibahasa sehingga mereka dapat melayani para jamaah dari dalam dan luar negeri.
“Beberapa tugas yang diberikan kepada departemen khusus ini termasuk menerima delegasi media dari luar negeri, berkomunikasi dengan outlet media wanita, (mereka perlu) menyediakan konten media dan jurnalistik yang tepat dalam beberapa bahasa,” jelas Dr. Arija.
Dr. Hindya mencatat bahwa pembentukan departemen media jenis ini membutuhkan upaya bersama untuk menjadi sukses, menekankan bahwa Universitas Umm Al-Qura adalah universitas pertama yang memiliki departemen yang didedikasikan untuk hubungan masyarakat.
“Ini akan memberikan gambaran yang berbeda dari media di Makkah, terutama bahwa baik Makkah dan Madinah dipenuhi dengan warisan sejarah yang kaya, di mana perempuan telah memainkan peran penting, beberapa di antaranya telah didokumentasikan, sementara yang lain belum tertutup dengan baik,” katanya.*