Hidayatullah.com–Sebanyak 50 orang keluarga kasta Dalit di Meerut’s Incholi telah mengancam untuk memeluk ke Islam setelah ditolak menempatkan Patung Dewi Kali di Candi Siwa oleh penduduk setempat, kata laporan India.com hari Kamis.
Penduduk desa mencapai hakim distrik kediaman untuk memprotes dan mereka diduga bahwa preman telah mengancam untuk menghajar mereka. Salah satu pemrotes, Rajkumar, berkata, “Kami adalah Hindu, jika kita tidak dapat menempatkan Patung Dewi dalam sebuah candi, maka kemana kami harus pergi? Hal ini lebih baik untuk pindah agama.”
Sebuah laporan yang dikutip The Times of India mengatakan sekitar 100 keluarga mengancam akan berpindah agama. Para pengunjuk rasa mengklaim bahwa empat keluarga yang telah menghentikan mereka benar-benar menggunakan tempat kuil untuk memarkir mobil dan traktor mereka.
“Selama Kanwar Yatra (salah satu acara agama paling dinantikan dalam kalendar Hindu), kami telah menyelenggarakan sebuah Bhandara di Kuil Siwa dan telah melontarkan usul untuk memasang Patung Kali Maa di sana. Semua orang, termasuk keluarga yang menghentikan kita sekarang, telah menyetujui gagasan itu dan diputuskan bahwa patung itu akan didirikan pada hari pertama Navratra. Namun, ketika kami melanjutkan rencana kami pada hari Rabu, empat keluarga menghentikan kami, mengklaim sebagai anggota komite kuil, meskipun mereka tidak memiliki dokumen untuk membuktikannya, ” ujar Vijay Kumar, salah seorang pengunjuk rasa.
Para penduduk desa juga melanjutkan dengan mengklaim bahwa empat keluarga, juga Kasta Dalit, telah mengepung tempat kuil dan bahkan mengkonsumsi minuman keras di sana.
“Jika kita tidak diizinkan mendirikan patung di kuil, kita akan memeluk Islam. Ini berlaku untuk setidaknya 100 keluarga desa, yang tidak diizinkan masuk ke kuil. Jika pemerintah kabupaten tidak campur tangan, kami akan masuk Islam, ”ancam Kuldeep Kumar, seorang warga desa lain.
Biro Sensus India dilansir India Express tahun 2011 menyebut ada 16,6 persen warga kasta Dalit dari seluruh populasi di India. Hampir setengahnya tinggal di negara bagian Uttar Pradesh (21 persen), West Bengal (11 persen), Bihar (8 persen), dan Tamil Nadu (7 persen). Negara bagian dengan penduduk kasta Dalit terbanyak adalah Punjab (31,94 persen), sementara yang paling sedikit adalah Mizoram (hampir 0 persen).
Dalit adalah kasta terendah di India yang bahkan tak dimasukkan dalam empat tingkatan sistem varna (Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra) sehingga digolongkan sebagai varna kelima (panchama). Nama “Dalit” berarti “yang tertindas” dalam Bahasa Sanskerta atau “yang terpecah/tercerai berai” dalam Bahasa Hindi.
Komisi Nasional untuk Kasta yang Terdaftar India menganggap penggunaan istilah “Dalit” sebagai tindakan yang “tidak konstitusional” karena undang-undang modern lebih memilih istilah “Kasta yang Terdaftar”. Namun sejumlah sumber menilai “Dalit” lebih representatif untuk menunjuk kelompok-kelompok di India yang tertindas dibanding “Kasta yang Terdaftar”.
India telah menyetujui kebijakan yang mengijinkan generasi pertama kasta Dalit untuk menjadi dokter pengacara dan orang pemerintahan sejak kemerdekaannya.
Faktanya, mayoritas kasta Dalit masih mengalami diskriminasi baik dalam kehidupan, tempat beribadah bahkan sekolahpun harus terpisah.
Upaya masyarakat kasta Dalit untuk mendapatkan kesempatan yang sama, baik sekolah, pekerjaan atau hak memilih, selalu beresiko tinggi bagi dan tak jarang menimbulkan kejahatan seksual bagi kaum perempuan kasta Dalit.
Penelitian Gerakan Nasional HAM Dalit, menyebutkan, sekitar 67 persen perempuan Dalit mengalami kekerasan seksual.
Biro Catatan Kejahatan Nasional mencatat di Uttar Pradesh, selain sering jadi korban pemerkosaan, setiap hari, dua rumah penyandang kasta Dalit dibakar.
Tingginya tingkat kejahatan terhadap warga kasta Dalit membuat mereka membisu dan tak mampu menentang sistem kasta.
Sistem kasta seringkali menjadi alasan pelaku kekerasan seksual bahkan perilaku tidak manusiawi lainnya, khusuanya kepada Dalit.*