Hidayatullah.com—Kabar meninggalnya mantan presiden Mesir Dr Mohamad Morsi yang sangat mendadak saat siding di pengadilan, mengejutkan dunia internasional. Mantan presiden berusia 67 itu meninggal setelah pingsan di pengadilan Kairo saat diadili atas tuduhan spionase, menurut pihak berwenang.
Sarah Leah Whitson, Direktur Eksekutif Human Right Watch Divisi Timur Tengah dan Afrika Utara hari Senin menyebut kematian mantan presiden pertama yang terpilih secara demokratis di Mesir itu “mengerikan tetapi sepenuhnya dapat diprediksi”, mengingat kegagalan pemerintah (Mesir) memberinya perawatan medis yang memadai.
“Apa yang telah kami dokumentasikan selama beberapa tahun terakhir adalah kenyataan bahwa ia berada dalam kondisi terburuk. Setiap kali ia muncul di hadapan hakim, ia meminta perawatan medis pribadi dan perawatan medis,” kata Whitson kepada Al Jazeera.
“Dia kekurangan makanan dan obat-obatan yang memadai. Pemerintah Mesir telah mengetahui dengan sangat jelas tentang kondisi kesehatannya yang terus menurun. Dia telah kehilangan banyak berat badan dan juga pingsan di pengadilan beberapa kali.
Ia juga mengakui, “baru menyelesaikan” sebuah laporan tentang kesehatan Morsi.
Sebagai seorang tokoh penting dalam Ikhwanul Muslimin dan presiden pertama yang terpilih secara demokratis dalam sejarah modern Mesir, Morsi telah dipenjara sejak ia dijatuhkan oleh rezim militer pada tahun 2013 setelah protes massa terhadap pemerintahannya.
Masyarakat dunia pada hari Senin mengeluarkan pernyataan tentang kematian Morsi yang mendadak ini.
Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Morsi dan rakyat Mesir.
“Kami menerima dengan sangat sedih berita kematian mendadak mantan presiden Dr. Mohamad Morsi. Saya menyampaikan belasungkawa terdalam saya kepada keluarga dan rakyat Mesir. Kami milik Tuhan dan kepadanya kami akan kembali,” kata Sheikh Tamim dalam posting Twitternya.
تلقينا ببالغ الأسى نبأ الوفاة المفاجئة للرئيس السابق الدكتور محمد مرسي .. أتقدم إلى عائلته وإلى الشعب المصري الشقيق بخالص العزاء.. إنا لله وإنا إليه راجعون
— تميم بن حمد (@TamimBinHamad) June 17, 2019
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan ikut memberikan penghormatan kepada Morsi dengan menyebutnya sebagai “martir”.
“Semoga Allah mengistirahatkan saudara kita Morsi kita, jiwa martir kita dalam damai,” kata Erdogan, yang telah menjalin hubungan dekat dengan mantan presiden Mesir tersebut.
Jurubicara PBB Stephane Dujarric juga ikut menyampaikan belasungkawa kepada kerabat serta para pendukung Morsi.
Sementara Sarah Leah Whitson, Direktur Eksekutif Human Right Watcha Divisi Timur Tengah dan Afrika Utara menyebut kematian Morsi “mengerikan tetapi sepenuhnya dapat diprediksi”, mengingat kegagalan pemerintah (Mesir) memberinya perawatan medis yang memadai.
“Apa yang telah kami dokumentasikan selama beberapa tahun terakhir adalah kenyataan bahwa ia berada dalam kondisi terburuk. Setiap kali ia muncul di hadapan hakim, ia meminta perawatan medis pribadi dan perawatan medis,” kata Whitson kepada Al Jazeera.
“Dia kekurangan makanan dan obat-obatan yang memadai. Pemerintah Mesir telah mengetahui dengan sangat jelas tentang kondisi kesehatannya yang terus menurun. Dia telah kehilangan banyak berat badan dan juga pingsan di pengadilan beberapa kali.
“Dia ditahan di sel isolasi tanpa akses televisi, email, atau komunikasi apa pun dengan teman dan keluarga,” kata Whitson, dengan alasan bahwa tidak akan ada investigasi independen yang kredibel mengenai kematian Morsi “karena pekerjaan dan peran [pemerintah Mesir] adalah membebaskan diri dari kesalahan yang pernah dilakukannya”.
Sarah Leah Whitson juga menambahkan lembaga HAM itu mengaku bersedih, mengingat HRW baru saja menyelesaikan laporan tentang kesehatan Morsi.
Putra Mohamad Morsi, Ahmed, memberikan pernyataan melalui akun Facebook, membenarkan kematian ayahnya.
“Di depan Allah, ayahku dan kita akan bersatu,” tulisnya.
Sementara Mohammed Sudan, anggota terkemuka Ikhwanul Muslimin di London, menggambarkan kematian Morsi sebagai “pembunuhan yang berencana”, sebab mantan presiden itu dilarang menerima obat-obatan atau kunjungan dan selama ini hanya sedikit informasi tentang kondisi kesehatannya.
“Dia telah ditempatkan di belakang sangkar kaca [selama persidangan]. Tidak ada yang bisa mendengarnya atau tahu apa yang terjadi padanya. Dia belum menerima kunjungan selama berbulan-bulan atau hampir setahun. Dia mengeluh sebelum dia tidak melakukannya tanpa mendapatkan obat. Ini adalah pembunuhan terencana. Ini adalah kematian yang lambat. ”
Partai Kebebasan dan Keadilan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihak berwenang Mesir bertanggung jawab atas “kematian lambat yang disengaja” kepada Morsi.
“[Pemerintah Mesir] memasukkannya ke dalam sel isolasi … mereka menahan obat-obatan dan memberinya makanan yang menjijikkan … mereka tidak memberinya hak asasi manusia yang paling mendasar,” kata partai politik itu dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan di situs webnya.
Mohamad Morsi adalah anggota terkemuka kelompok Ikhwanul Muslimin, kelompok paling ditakuti penguasa Mesir, yang memenangkan pemilihan presiden pertama Mesir secara demokratis tahun 2012.
Namun, setelah hanya satu tahun menjabat, ia justru digulingkan dan dipenjara dalam kudeta militer berdarah yang dipimpin oleh menteri pertahanan Mesir kala itu (yang kini jadi presiden) Abdul Fattah al-Sisi.
Tak lama setelah kudeta, pemerintah menyatakan Ikhwanul Muslimin sebagai “organisasi teroris”.
Morsi juga menghadapi sejumlah tuntutan hukum, yang menurut sejumlah kelompok hak asasi manusia dan pengamat independen, bermotivasi politis, kutip Anadolu Agency.
Ikhwanul Muslimin sebelumnya meminta PBB untuk menyerukan perawatan medis yang memadai bagi mantan presiden itu, dengan alasan kelalailan saat ditahan, menurut Middle East Eye (MEE).
Dalam sebuah rekakan yang bocor sebelum ini disebutkan, Morsi mengatakan, hidupnya dalam bahaya, kutip Qudnews Network.
Sebuah laporan khusus oleh Reuters menunjukkan bahwa lebih dari 100 orang meninggal karena kelalaian medis sejak Abdul Fatah Sisi menguasai Mesir, tambah Anadolu Agency.
Bulan Ramadhan lalu, pihak keluarga mengatakan, kondisi penahanan dan kesehatan Morsi sama sekali tidak diketahui.
April 2019 lalu, Jenderal militer Tel Aviv, Aryeh Eldad secara mengejutkan mengatakan, ‘Israel’ dalang di balik kudeta terhadap Mohammad Morsi tahun 2013 melalui militer Mesir.
Hal ini diungkap Aryeh Eldad, dalam sebuah artikel di surat kabar Israel, Maariv terkait kudeta militer itu.
“Pecahnya revolusi Januari bertepatan dengan penilaian keamanan Israel bahwa Presiden terpilih Mohammad Morsi, seorang pria Ikhwanul Muslim, bermaksud untuk membatalkan perjanjian damai dengan Israel dan mengirim lebih banyak pasukan militer Mesir ke Semenanjung Sinai,” tulis Eldad.*/Nashirul Haq AR