Hidayatullah.com–Mantan Presiden Mohammad Morsi yang digulingkan meninggal mendadak hari Senin di pengadilan setelah berakhirnya persidangan dalam gugatan spionase.
Mohamed Morsi sebelumnya telah meminta untuk berbicara dan hakim memberinya izin, lapor Extra News dikutip egypttoday.com.
TV pemerintah pada Selasa melaporkan bahwa Morsi tidak sadarkan diri setelah sesi pengadilan dan meninggal tidak lama setelahnya.
Mohammad Morsi (67) merupakan anggota gerakan Ikhwanul Muslimin, gerakan Islam paling ditakuti hampir semua rezim Mesir, terpilih menjadi presiden secara demokratis pada tahun 2012 setelah demonstrasi Arab Spring 2011. Sekaligus menjadi akhir dari kekuasaan 30 tahun rezim otoriter Hosni Mubarak.
Baru satu tahun menjabat, dari masa jabatan empat tahun, Morsi kemudian digulingkan dalam kudeta militer pimpinan Jendreal Abdul Fattah al Sisi pada Juli 2013. Sementara organisasi ia berasal, Ikhwanul Muslimin, sejak itu dilarang.
Morsi, telah kehilangan kesadaran selama sebelum dia meninggal di persidangan yang dia hadapi untuk sejumlah tuduhan sejak dia digulingkan dan dipenjara, kutip Anadolu Agency.
Baca: Presiden Mursi Menghadapi ‘Kematian’ Perlahan Karena Penyiksaan
Ada enam dakwaan terhadap mantan presiden Mesir ini setelah militer mengambil alih kekuasaan berdarah. Termasuk tuduhan pembunuhan, mata-mata untuk Qatar, mata-mata untuk Hamas dan Hizbullah, menghina pengadilan dan keterlibatan dalam terorisme.
Pengadilan Kriminal Kairo telah menunda pengadilan Morsi dan 23 orang lainnya dalam kasus “berkolaborasi dengan Hamas” untuk besok.
Pada November 2016, Pengadilan Kasasi juga membatalkan hukuman seumur hidup Morsi dan 21 orang terdakwa lainnya, termasuk beberapa orang yang dijatuhi hukuman mati, dalam kasus yang sama, dan memerintahkan pengadilan ulang.
Pada bulan Ramadhan 2019 ini, Morsi telah melewati Ramadhan ke-6 di penjara tanpa diketahui kondisi penahanannya.
Pihak keluarga Morsi sebelumnya telah mengeluarkan pernyataan tertulis mengungkapkan kekhawatiran tentang kondisi penahanan dan kondisi kesehatannya.
Keduanya ditahan di sel isolasi di Penjara Tora di selatan Kairo.
Pihak keluarga mengatakan, kondisi penahanan dan kesehatan Morsi sama sekali tidak diketahui.
April 2019 lalu, Jenderal militer Tel Aviv, Aryeh Eldad secara mengejutkan mengatakan, Israel dalang di balik kudeta terhadap Mohammad Morsi tahun 2013 melalui militer Mesir.
Hal ini diungkap Aryeh Eldad, dalam sebuah artikel di surat kabar Israel, Maariv terkait kudeta militer itu.
“Pecahnya revolusi Januari bertepatan dengan penilaian keamanan Israel bahwa Presiden terpilih Mohammad Morsi, seorang pria Ikhwanul Muslim, bermaksud untuk membatalkan perjanjian damai dengan Israel dan mengirim lebih banyak pasukan militer Mesir ke Semenanjung Sinai,” tulis Eldad.*/Nashirul Haq AR