Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Pensiunan Jenderal Menang Pilpres Mauritania, Oposisi Menggugat

Ama Farah
Terakhir diupdate: 24 Juni 2019 08:03 8:03 am
Ama Farah
Dipublikasikan 24 Juni 2019 08:03
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Mohamed Ould Ghazouani memenangkan pemilihan presidan Mauritania dengan suara mutlak. Ini untuk pertama kalinya presiden negara Afrika Barat itu dipilih secara demokratis.

Ghazouani, kandidat dari partai pemerintah yang juga pensiunan jenderal dan mantan menteri pertahanan, memenangkan pemilihan presiden dengan suara 52%. Demikian diumumkan komisi pemilu Mauritania hari Ahad (23/6/2019) seperti dilansir DW.

Rival terdekat Ghazouani, aktivis antiperbudakan Biram Dah Abeid, berada di posisi kedua dengan suara hanya 18,58%. Sidi Mohamed Ould Boubacar, yang diunggulkan oleh partai Islam terbesar di Mauritania, duduk di peringkat ketiga dengan perolehan suara 17,87%.

Oleh karena Ghazouani sudah menang mutlak di putaran pertama, maka dua pemilik suara terbanyak tidak perlu berhadap-hadapan di putaran kedua.

Hari Ahad pagi, Ghazouani mengumumkan dirinya sebagai pemenang. Pemerintah Mauritania juga menyatakan bekas jenderal itu sebagai pemenang dan memberikannya ucapan selamat.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Menanggapi kemenangan Ghazouani, kandidat-kandidat lain menuding ada kecurangan dalam pilpres.

Berbicara dalam sebuah konferensi pers bersama tiga kandidat presiden lain, Boubacar mengatakan bahwa “sejumlah pelanggaran … telah menghapus kredibilitas” pilpres tersebut.

“Kami menolak hasil pemilu dan kami menganggap bahwa itu mustahil mencerminkan keinginan rakyat Mauritania,” kata Boubacar, seraya mengatakan bahwa oposisi akan menggunakan segala cara hukum untuk menggugat hasil pemilu tersebut.

Calon-calon presiden dari oposisi sebelum pemilu digelar sudah mengatakan bahwa mereka akan menggugat hasil perhitungan suara apabila kandidat dari partai penguasa langsung menang dalam putaran pertama.

“Ini kelihatannya seperti kudeta,” kata Abeid dalam konferensi pers itu, mewakili dirinya dan tiga kandidat lain. “Kami bersatu dan akan menggugat [hasil pemilu],” imbuhnya.

Para pemilik suara di Republik Islam Mauritania hari Ahad kemarin berbondong-bondong menuju tempat pemungutan suara untuk memilih presiden baru, sementara Mohamed Ould Abdel Aziz akan mengakhiri masa bakti lima tahun keduanya.

Sekitar 1,5 juta orang di negara Afrika tersebut berhak untuk memilih dalam pemilihan presiden tahun ini.

Ghazouani, yang disokong Abdel Aziz, sejak awal digadang-gadang sebagai pemenang.

Mauritania mendapatkan kemerdekaan dari Prancis pada tahun 1960. Sejak menjadi negara berdaulat hingga berpuluh tahun kemudian pemerintahan di negara itu dikuasai oleh militer yang tidak dipilih rakyat.

Ghazouani, yang pernah mengepalai dinas keamanan dalam negeri Mauritania, menjabat sebagai kepala staf Abdel Aziz dari tahun 2008 sampai 2018.

Dalam kampanyenya Ghazouani mengusung tema keberlanjutan, solidaritas dan keamanan negara.

Mauritania, yang dikenal sebagai sekutu negara-negara Barat, beberapa tahun terakhir berhasil meredam kekerasan kelompok ekstrimis.

Dokumen yang disita dari tempat persembunyian mendiang pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden di Abottabad, Pakistan, mengindikasikan bahwa kelompok itu mendiskusikan perjanjian damai dengan otoritas Mauritania pada 2010, setahun sebelum Bin Laden dibunuh pasukan AS di Abottabad. Pihak Mauritania membantah adanya kesepakatan semacam itu, dan menegaskan bahwa hasil kerja intelijen dan program rehabilitasi terpidana terorisme yang berhasil meredam serangan-serangan maut di negaranya.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:GhazouaniMauritania
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jerman Kehilangan Jejak 160 Pendukung ISIS
Tulisan selanjutnya Pemilu Wali Kota Istanbul Sudah Diulang, Kandidat AKP Tambah Kalah Banyak

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Sembunyikan Pisau di Kaos Kaki Pria Indonesia Terancam Hukuman Cambuk di Singapura

Berita
30 Agustus 2026 10:37
70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul
DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Terbaru

  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?