Hidayatullah.com—Partai penguasa Turki saat ini AKP jelas kehilangan kontrol atas kota terbesar di negara itu, Istanbul, setelah untuk kedua kalinya calon unggulannya kalah dalam pemilihan kepala daerah.
Kandidat dari partai sekuler oposisi terbesar CHP, Ekrem Imamoglu, dipastikan meraih 54% suara meskipun belum seluruh surat suara dihitung.
Lawan Imamoglu, mantan perdana menteri Turki Binali Yildirim yang berasal dari AKP, mau tidak mau harus mengakui kekalahan telaknya setelah pemilihan kedua ini.
Dalam pidato kemenangannya, Imamoglu mengatakan bahwa hasil pemilu terbaru ini menandai “awal baru” bagi kota Istanbul dan negara Turki.
“Kita membuka lembaran baru di Istanbul,” ujarnya seperti dilansir BBC Ahad (23/6/2019). “Dalam lembaran baru ini akan ada keadilan, kesetaraan dan cinta,” imbuhnya.
Imamoglu juga menambahkan bahwa dia bersedia bekerja sama dengan Erdogan. “Bapak Presiden, saya siap bekerja sama dalam keharmonisan dengan Anda,” ujar politisi yang namanya nyaris tidak pernah dikenal publik sebelum pemilu Istanbul tahun ini tersebut.
Dalam pemilihan ulangan ini Imamoglu unggul lebih dari 775.000 suara. Padahal dalam pemilu asli bulan Maret lalu, selisih suaranya dengan Binali Yildirim hanya 13.000.
Kemenangan Imamoglu pada pemilihan umum bulan Maret dibatalkan pengadilan, setelah berkali-kali digugat oleh AKP yang menudingnya melakukan kecurangan. Akhirnya, pengadilan memerintahkan agar pemilihan kepala daerah Istanbul diulang.
Dalam pidato rapat bersama anggota parlemen dari partai AKP awal Mei lalu, Presiden Erdogan mengatakan bahwa “para pencuri” telah “mencuri keinginan nasional (rakyat)” di kotak-kotak suara, dan menambahkan bahwa jika mereka “tidak dimintai pertanggungjawaban” maka “rakyat akan menuntut penjelasan dari kita.”
Pemilihan umum di Istanbul merupakan bagian penting dari simbol kekuasaan AKP dan khususnya Erdogan. Presiden Turki itu berasal dari Istanbul, dan terpilih menjadi kepala daerah kota terbesar di Turki itu pada 1994. Dia kemudian mendirikan AKP, bersama Abdullah Gul dan Binali Yildirim pada tahun 2001, dan menjabat sebagai perdana menteri antara tahun 2003 dan 2014 sebelum akhirnya menjadi presiden.
Meskipun memiliki wilayah luas yang membentang dari Mediterania berseberangan dengan Eropa sampai ke timur berbatasan dengan Iran, wajah dan jantung perpolitikan negara Turki bisa dibilang tercermin dalam dinamika politik di dua kota terbesar, yaitu Istanbul dan ibukota Ankara. Bagi partai-partai politik di Turki, kemenangan di banyak wilayah lain tidak lengkap atau bahkan hambar tanpa kemenangan di Istanbul dan Ankara.*