Hidayatullah.com—Pimpinan Gereja Katolik Ethiopia Berhaneyesus Demerew dilarang keluar dari bandara utama di Eritrea untuk mengikuti sebuah acara.
Kardinal Berhaneyesus terkatung-katung di bandara yang terletak di ibu kota Asmara itu selama lebih dari 16 jam pada akhir pekan, menurut pernyataan yang dirilis gereja seperti dilansir BBC Rabu (26/2/2020).
Dia tiba di Eritrea pada hari Sabtu, tetapi diperintahkan kembali ke Ethiopia keesokan petang setelah gagal untuk menemui kerumunan orang yang akan menyambut kedatangannya di bandara itu.
Kardinal sudah memperoleh visa untuk satu bulan, yang sekarang dapat diperoleh warga Ethiopia setibanya di Eritrea menyusul kesepakatan damai 2018 yang mengakhiri pertikaian kedua negara yang telah berlangsung lama.
Akan tetapi, pihak berwenang di bandara itu mengatakan bahwa perintah datang dari “atas”, yang artinya Kardinal Berhaneyesus tidak dapat keluar dari bandara.
Kardinal Berhaneyesus seharusnya menghadiri sebuah acara peringatan ke-50 tahun pembangunan Kidane Mehret Cathedral di Asmara.
Kardinal itu merupakan tokoh keagamaan yang sangat dihormati di Ethiopia, di mana terdapat paling banyak jemaat Gereja Kristen Orthodoks, dan ditunjuk oleh Perdana Menteri Abiy Ahmed sebagai ketua komisi rekonsiliasi nasional.
Pemerintah Eritrea belum memberi penjelasan soal masalah itu.
Tahunlalu, pihak berwenang di Eritrea menutup sekolah-sekolah dan rumah sakit yang dikelola oleh Gereja Katolik setelah para uskup mengkritik pemerintahan Presiden Isaias Afwerki dan menyerukan reformasi politik.
Eritrea saat ini tidak memiliki konstitusi yang berlaku dan tidak pernah menggelar pemilihan umum.
Pemerintah Eritrea berdalih menerapkan peraturan lama, yang menyatakan bahwa lembaga-lembaga keagamaan tidak dapat mengelola institusi semacam sekolah dan rumah sakit.*