Hidayatullah.com—Seorang tunawisma Kanada yang juga pecandu narkoba bernama Luc Laplante telah kehilangan tiga temannya –Dave, Emily dan Pat—karena overdosis opioid dalam kurun tiga bulan masa pandemi coronavirus terakhir.
Pihak yang ikut bersalah, menurutnya, adalah program pemerintah yang menggoda para pecandu berupa bantuan finansial masa pandemi yang bisa didapat hanya dengan menjawab beberapa pertanyaan.
“Orang-orang mendaftarkan diri untuk memperoleh bantuan Covid-19 dari pemerintah, menggunakannya untuk menikmati narkoba sampai kelebihan dosis,” kata Laplante, hanya beberapa jam setelah dirinya sendiri selamat dari overdosis fentanyl, seperti dilansir AFP Ahad (28/6/2020).
Pemerintahan Perdana Menteri Justin Trudeau pada bulan Maret memberikan bantuan darurat C$2.000 perbulan untuk membantu warga yang kehilangan pekerjaan selama pandemi, seiring dengan ditutupnya berbagai jenis usaha guna meredam penyebaran coronavirus.
Pemerintah menyederhanakan proses aplikasi dan mempercepat penyaluran dana tersebut bagi rakyat Kanada yang membutuhkan. Pemohon hanya diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan untuk memverifikasinya.
“Dengan uang C$2.000 di kantong orang langsung menyalahgunakannya,” kata Laplante. “Mereka memiliki akses ke uang kaget dan itu membuat mereka tewas.”
Dinas koroner Ontario memperkirakan jumlah kasus overdosis fatal naik 25% selama tiga bulan terakhir. Di wilayah British Columbia, kematian akibat overdosis bahkan naik 40% dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Tragisnya, sejumlah wilayah lain di seluruh penjuru negeri ini melaporkan tren serupa,” kata Theresa Tam, kepala otoritas kesehatan publik Kanada, bulan lalu.
Dia menegaskan adanya “klaster overdosis disebabkan campuran zat beracun tidak diketahui atau tidak umum” di sejumlah kota termasuk Toronto dan Calgary.
Para pecandu dan petugas lapangan mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan kasus overdosis meningkat selama pandemi coronavirus seperti isolasi fisik selama lockdown, berkurangnya akses ke pelayanan penanggulangan kecanduan narkoba seperti tempat injeksi aman, sertanya banyaknya pelayanan yang dialihkan dari perawatan terhadap pecandu narkoba menjadi perawatan pasien Covid-19.
Bonnie Henry, kepala otoritas kesehatan publik di British Columbia, meneteskan air mata dalam penjelasan pers belum lama ini ketika memaparkan rekor 170 kasus kematian overdosis narkoba selama bulan Mei, yang melebihi angka kematian coronavirus di provinsi itu.
“Covid-19 bukan satu-satunya krisis kesehatan kita,” ujarnya.
Tiga lokasi injeksi aman di kawasan Lower Town di kota Ottawa ditutup setengahnya guna menyelaraskan dengan aturan jarak sosial selama pandemi Covid-19. Akibatnya, sebagian orang memilih menggunakan narkoba dan overdosis di jalanan.
Seorang jurnalis AFP menyaksikan bagaimana paramedis tiba di lokasi overdosis yang terjadi tepat di luar fasilitas injeksi aman.
Laplante, 37, mengaku ditemukan seorang pelintas jalan ketika dirinya teler berat akibat overdosis fentanyl. Beruntung orang tersebut melihatnya terbaring di tanah dan langsung memanggil paramedis sehingga nyawanya terselamatkan.
“Mereka menyadarkan saya dan mengantar saya pulang. Saya kemudian beristirahat, lalu menggunakan narkoba lagi,” ujarnya. Dia bersikukuh mengatakan yang membuatnya tergeletak waktu itu adalah narkoba yang kadarnya lebih tinggi dibanding yang biasa dia konsumsi.
Anne Marie Hopkins dari Ottawa Inner City Health mengatakan sejumlah kliennya menggunakan tunjangan Covid-19 itu untuk menyewa kamar hotel dan mati akibat overdosis sendirian.
“Kami sebelumnya sudah menangani banyak masalah dengan krisis opioid, tetapi kami berhasil mengatasinya. Kemudian datang pandemi ini dan membuat keadaannya semakin buruk,” kata Hopkins kepada AFP.*