Hidayatullah.com—Kabinet Sudan menyetujui inisiatif Uni Emirat Arab untuk menjadi mediator masalah sengketa batas wilayah dengan Ethiopia, serta bendungan raksasa yang dibangun di aliran sungai Nil.
Daerah Al-Fashaga – di mana wilayah Amhara di bagian utara Ethiopia bertemu dengan negara bagian Gedaref di sisi timur Sudan – diklaim oleh kedua negara itu dan belakangan ini menjadi sumber konflik bersenjata yang dikhawatirkan akan meluas, lansir BBC Rabu (24/3/2021).
Berbicara di parlemen hari Selasa, PM Ethiopia
Abiy Ahmed mengatakan negaranya tidak ingin berperang dengan Sudan terkait masalah sengketa wilayah.
Sementara itu, negoisasi berkaitan dengan Grand Ethiopia Renaissance Dam (GERD) tetap menemui jalan buntu selama bertahun-tahun, meskipun tahun lalu ada intervensi oleh Amerika Serikat dan Uni Afrika.
Ethiopia menolak pihak dari luar Uni Afrika masuk dalam proses mediasi GERD.
Ethiopia membangun bendungan raksasa di aliran sungai Nil Biru dengan tujuan memproduksi listrik bagi negaranya untuk menggenjot perekonomian.
Namun Mesir, yang mengandalkan sungai terpanjang di Afrika itu untuk sumber air minum dan kebutuhan lain, khawatir volume air akan banyak berkurang dengan adanya bendungan raksasa itu.
Sudan, yang berada di sisi yang sama dengan Mesir dalam masalah GERD, menurut para pakar sebenarnya diuntungkan karena akan mengurangi besaran banjir yang kerap dialaminya.*