Hidayatullah.com—Prancis hari Kamis (29/7/2021) mengatakan salah satu helikopter militer yang membawa enam tentaranya ditahan setelah mendarat di Guinea Ekuatorial, insiden diplomatik yang menunjukkan hubungan tegang antara Malabo dan Paris.
Helikopter itu mendarat di bandara Bata, Guinea Ekuatorial pada Rabu malam, beberapa jam setelah pengadilan Prancis mengukuhkan vonis bersalah Wakil Presiden Guinea Ekuatorial Teodoro Obiang Mangue dalam kasus penggelapan dana. Kedua pihak sama-sama tidak ada yang berbicara secara terbuka perihal kaitan kedua peristiwa itu.
Mangue, yang merupakan putra dari Presiden Teodoro Obiang Nguema Mbasogo, lewat Twitter mengatakan bahwa sebuah “helikopter pengintai” telah mendarat tanpa izin setelah melanggar wilayah udara Guinea Ekuatorial.
“Ini sekali lagi menunjukkan maksud dari Prancis untuk mengacaukan Republik Guinea Ekuatorial,” katanya, seperti dilansir Reuters.
Juru bicara militer Prancis Kolonel Pascal Ianni mengatakan enam tentara yang berada di helikopter itu tidak bersenjata. Pesawat itu sedang melakukan perjalanan dari Douala di negara tetangga Kamerun menuju ke pangkalan militer Prancis di Libreville, Gabon dan singgah di Bata untuk mengisi bahan bakar, katanya, membantah tudingan ada maksud mengusik Guinea Ekuatorial.
“Pihak berwenang Guinea Ekuatorial memutuskan untuk menahan helikopter tersebut. Masalah ini sedang diselesaikan di tingkat diplomatik,” kata Ianni.
Mangue, yang ayahnya telah memerintah Guinea Ekuatorial selama 42 tahun, dinyatakan bersalah di Prancis pada 2017 dalam dakwaan pencucian uang dan penggelapan. Dia diberi hukuman percobaan tiga tahun dan denda dalam jumlah besar, dan sejumlah propertinya disita termasuk rumah besar di Paris dan mobil mewah.
Pemerintah Guinea Ekuatorial dan putra presiden belum mengomentari putusan pengadilan Prancis yang mengukuhkan hukuman tersebut. Mereka berargumen bahwa kasus tersebut melanggar hak kekebalan diplomatik.*