Hidayatullah.com—Amerika Serikat memutuskan untuk menentang ide penggunaan pangakalan militer terbesarnya di Korea Selatan dan Jepang untuk menampung sementara pengungsi Afghanistan, kata dua sumber yang mengetahui tentang hal itu kepada Reuters.
Para pejabat AS rupanya sudah menemukan tempat yang dianggap lebih baik dan memutuskan untuk mencoret kedua pangkalan tersebut dari daftar disebabkan antara lain oleh faktor kesulitan logistik dan jauhnya lokasi dari Afghanistan, kata salah satu sumber yang tidak ingin identitasnya diketahui.
Pemerintah Korea Selatan merespon dengan baik ketika Amerika Serikat mengutarakan ide itu untuk pertama kalinya, imbuhnya.
Korea Selatan juga sedang bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk mengevakuasi sekitar 400 orang Afghanistan yang pernah bekerja untuk pasukan dan pekerja bantuan Korsel, kata sumber tersebut. Kebanyakan orang Afghanistan itu adalah tenaga medis, penerjemah, insinyur dan lainnya yang membantu pasukan Korsel yang ditugaskan di negara tersebut antara tahun 2001 dan 2014, atau ikut serta dalam misi rekonstruksi dari 2010-2014 yang melibatkan pelatihan medis dan keterampilan khusus.
Departemen Luar Negeri AS tidak menanggapi permintaan komentar perihal kabar tersebut, lapor Reuters Selasa (24/8/2021).
“Meskipun ada penolakan dari dalam Korsel terhadap penerimaan pengungsi, orang-orang ini pernah membantu kami dan itu harus dilakukan atas dasar keprihatinan kemanusiaan dan kepercayaan dari komunitas internasional,” kata salah satu sumber.
Rencana membawa mereka ke Seoul penuh dengan ketidakpastian disebabkan tidak menentu ya situasi di Kabul, di mana ribuan orang berbondong-bondong menuju bandara, sangat ingin segera angkat kaki dari Afghanistan menyusul pengambilalihan ibukota oleh Taliban pada 15 Agustus.
Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya berpacu untuk menyelesaikan evakuasi semua orang asing dan warga Afghanistan yang rentan sebelum berakhirnya tenggat waktu 31 Agustus yang disepakati dengan Taliban.*