Hidayatullah.com — Bekas kepala dinas intelijen luar negeri ‘Israel’ (Mossad), Yossi Cohen, mengatakan Iran masih jauh dari mendapatkan senjata atau bom nuklir. Pernyataannya ini bertentangan dengan klaim Perdana Menteri Naftali Bennett bahwa Teheran hampir menjadi negara berkekuatan nuklir.
“Saya kira pada akhirnya, Iran tidak akan mendapat senjata nuklir apapun. Tidak lebih dekat dari sebelumnya, dan itu berkat upaya besar yang kami lakukan,” kata Cohen pada Konferensi Jerusalem Post.
“Saya kira mereka memiliki lebih sedikit dukungan untuk apa yang mereka lakukan di masa lalu,” lanjutnya.
Dia memperingatkan jika Iran berhasil mengembangkan senjata nuklir, ‘Israel’ harus dapat menghentikannya sendiri.
“Kita harus mengembangkan kemampuan yang memungkinkan kita untuk sepenuhnya mandiri. Serta melakukan apa yang sudah dua kali di lakukan ‘Israel’,” katanya mengacu pada pengeboman reaktor nuklir Irak pada 1981 dan reaktor Suriah pada 2007.
Cohen menggambarkan kesepakatan nuklir Iran 2015 sebagai “tidak komprehensif”, dan itu harus sepenuhnya “di tulis ulang”.
Perlu di ketahui, Iran memiliki beberapa program nuklir tetapi bom bukanlah tujuan mereka. Negara itu mempunyai pembangkit listrik tenaga nuklir, beberapa pertambangan uranium, reaktor nuklir untuk penelitian, serta fasilitas pengayaan uranium.
Sebagai anggota Perjanjian Nonproliferasi Nuklir, Iran menyatakan program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai. Negara mayoritas Syiah itu juga secara terbuka mengecam kepemilikan dan penggunaan senjata nuklir.*