Hidayatullah.com–Rwanda hari Selasa (5/2/2019) mengatakan sudah menandatangani kesepakatan bernilai $400 juta untuk memproduksi gas dalam tabung yang diambil dari Danau Kivu, salah satu danau berbahaya di Afrika yang dijuluki “Killer Lake” (Danau Pembunuh) karena mengeluarkan kabut gas metana yang dapat membunuh makhluk hidup.
Proyek yang akan digarap Gasmeth Energy –perusahaan yang dimiliki oleh pengusaha Amerika Serikat dan Nigeria serta rakyat Rwanda– itu akan menyedot gas dari dasar danau lalu dikemas dalam tabung untuk dipakai sebagai bahan bakar. Dengan begitu diharapkan jumlah gas beracun yang berpotensi naik ke permukaan diharapkan bisa berkurang.
Kesepakatan untuk jangka waktu tujuh tahun itu diteken hari Jumat (1/2/2019) dan diumumkan hari Selasa (4/2/2019), lapor Reuters.
Rwanda sebelumnya sudah memiliki dua perusahaan yang mengekstrak gas dari Danau Kivu untuk dipakai sebagai pembangkit listrik.
Clare Akamanzi, pimpinan eksekutif Rwanda Development Board, mengatakan kepada Reuters bahwa pengemasan gas itu akan membantu mengurangi ketergantungan rakyat terhadap kayu dan batu bara sebagai bahan bakar. Keduanya adalah bahan bakar yang paling banyak dipakai oleh warga dan pabrik teh di negara Afrika Timur berpenduduk 12 juta jiwa itu.
“Kami berharap dapat menggunakan gas yang harganya terjangkau dan lebih ramah lingkungan,” kata Akamanzi.
“Kami berharap rakyat menggunakan gas dan bukan batu bara, demikian pula dengan pabrik-pabrik teh yang menggunakan kayu bakar agar diganti dengan gas. Itu merupakan bagian dari agenda hijau kami,” imbuhnya.
Gasmeth Energy mengatakan akan mendanai, membangun dan memelihara fasilitas ekstrasi, pengolahan serta kompresi gas metana untuk kemudian dijual di dalam dan luar negeri.
Akamanzi mengatakan gas dalam tabung akan mulai di jual dua tahun mendatang, seraya menambahkan bahwa harganya masih belum ditetapkan.
Di dasar perairan Danau Kivu, yang terletak di kawasan gunung berapi di perbatasan Rwanda dengan Republik Demokratik Kongo, muncul gas metana pekat yang dikhawatirkan sewaktu-waktu meledak dan menewaskan orang-orang di sekitarnya.
Di Kamerun juga ada danau serupa yang pernah mengeluarkan kabut putih dan menimbulkan ledakan berasal dari luapan gas metana yang menewaskan 1.800 orang.
Untuk menghindari bencana serupa, para pakar menyarankan agar gas dari Danau Kivu diambil dan dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan. Apabila dibiarkan, khawatir kelebihan gas akan meluap dan membahayakan masyarkat, mengingat penduduk di sekitar Danau Kivu jauh lebih banyak dibanding danau serupa yang ada di Kamerun.*