Hidayatullah.com—Tel Aviv menjadi kota paling mahal di dunia untuk bermukim, akibat inflasi yang mendorong kenaikan harga barang dan jasa di tengah pandemi Covid-19.
Kota itu naik lima peringkat kurun 12 bulan terakhir menggeser 3 penghuni nomor satu tahun lalu Paris, Hong Kong dan Zurich, menurut sistem peringkat otoritatif yang disusun oleh Economist Intelligence Unit (EIU).
Tahun ini, Paris berada di peringkat kedua bersama Singapura. Sementara Zurich dan Hong Kong melengkapi peringkat lima teratas, lansir The Guardian Rabu (1/12/2021).
New York bercokol di posisi keenam, Jenewa ketujuh, dan Kopenhagen, Loss Angeles menggenapi sepuluh teratas.
London naik 3 tingkat ke posisi 17, Sydney naik satu ke peringkat 14, dan Melbourne naik dua ke posisi 16.
Tel Aviv menjadi kota termahal juga didorong oleh kekuatan mata uang shekel terhadap dolar AS, serta kenaikan biaya transportasi dan bahan kebutuhan bahan pokok.
Biaya transportasi dan minuman beralkohol di Tel Aviv merupakan yang termahal kedua di dunia, biaya perawatan personal termahal kelima dan biaya rekreasi keenam.
Teheran menjadi negara dengan kenaikan peringkat paling besar setelah melompat 50 anak tangga ke posisi 29. Penyebabnya, kelangkaan suplai barang, kenaikan harga barang impor menyusul berbagai sanksi yang diberlakukan Amerika Serikat.
Dua kota di negara konflik, Damaskus (Suriah) dan Tripoli (Libya), menjadi kota termurah untuk ditinggali. Demikian pula Tashkent, ibukota Uzbekistan.*