Hidayatullah.com– Menteri Ketenagakerjaan Iran Hojatollah Abdolmaleki hari Selasa (14/6/2022) mengundurkan diri dari jabatannya di tengah maraknya demonstrasi rakyat – pensiunan, pedagang, para pekerja – yang memprotes biaya hidup yang semakin tinggi.
Meskipun tidak jelas apakah pengunduran diri Hojatollah Abdolmaleki berkaitan langsung dengan protes masyarakat yang berlangsung setiap hari di berbagai daerah di Iran sebulan belakangan ini, seorang anggota parlemen senior Iran menuding “ketidakbecusan” menteri itu sebagai penyebab rakyat bersuara marah, lansir Reuters.
Situs berita semi-resmi Tasnim menyebut pengunduran diri Abdolmaleki disebabkan kritik yang memuncak atas caranya menangani pasar tenaga kerja dan kebijakannya yang menaikkan uang pensiun hanya sedikit.
Belum lama ini, Kementerian Ketanagakerjaan, Kesejahteraan dan Keamanan Sosial mengatakan akan menaikkan dana pensiun 57,4 persen menjadi 55,8 juta rial Iran ($177) per bulan. Namun, para pensiunan mengatakan kenaikan itu terlambat karena inflasi sudah mendongkrak harga-harga menjadi lebih tinggi.
Anggota parlemen senior Nasser Mousavi Laregani mengatakan kepada parlemen bahwa saat ini pemerintah Iran menghadapi tingkat ketidakpercayaan, kemarahan dan protes yang belum pernah terjadi sebelumnya dari kalangan buruh, pekerja dan pensiunan.
Dia mengatakan bahwa para manula pensiunan sampai harus mengorbankan martabat mereka dan turun ke jalan guna menyuarakan permintaannys semata-mata akibat ketidakbecusan Abdolmaleki.
Juru bicara pemerintah Ali Bahadori Jahromi mengatakan kepada wartawan bahwa pemerintahan Presiden Ebrahim Raisi “melakukan yang terbaik untuk mengurangi tekanan pada rakyat” dan “menemukan cara untuk mengulurkan bantuan kepada mereka”.
Kebanyakan pengunjuk rasa adalah pensiunan swasta dan pensiunan pegawai pemerintah yang menuntut kenaikan signifikan dalam tunjangan pensiun untuk mengatasi kenaikan harga.
Serangkaian protes dalam beberapa pekan terakhir menggemakan slogan-slogan anti-rezim, termasuk “kematian” bagi Pemimpin Syiah Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. yang menyalahkan sebagian kerusuhan kepada “musuh-musuh asing” yang berusaha menggulingkan negara itu.
Unggahan di media sosial pada hari Selasa marak menampilkan aksi protes lanjutan di sejumlah kota. Salah satunya – yang belum dapat diverifikasi – menyebutkan perihal serangan pada hari Senin yang menghantam pasar di ibukota Teheran, pusat kota Kazerun dan pusat industri di Arak, lapor Reuters.
Rial Iran mencapai rekor terendah baru pada hari Ahad kemarin, 332.000 rial untuk satu dolar, padahal pada 1 Juni uang 318.000 rial setara dengan satu dolar.*