Hidayatullah.com– Junta militer Mali meminta agar jubir pasukan penjaga perdamaian PBB, MINUSMA, untuk meninggalkan negara itu setelah dia berkicau di Twitter soal tentara Pantai Gading yang ditangkap di Mali.
Hari Rabu (20/7/2022), otoritas Mali memerintahkan Olivier Salgado, untuk angkat ransel dalam waktu 72 jam.
Mali bersitegang dengan tetangga-tetangganya sejak militer merebut kekuasaan pada Agustus 2020. Penangkapan 49 prajurit Pantai Gading belum lama ini menambah ketegangan itu.
Mali mengklaim bahwa puluhan tentara Pantai Gading itu adalah “tentara bayaran” yang berusaha menggulingkan junta militer. Mereka ditangkap setibanya di bandara Bamako dengan pesawat khusus.
Menanggapi tuduhan itu, Salgado mengatakan bahwa para prajurit itu bekerja untuk sebuah kontraktor keamanan Jerman yang disewa MINUSMA.
Sebuah pernyataan oleh Kementerian Luar Negeri Mali mengatakan pengusiran itu disebabkan cuitan Salgado di media sosial.
“Langkah ini diambil menyusul serangkaian publikasi kontroversial dan tidak dapat diterima oleh orang yang ditugaskan ke jejaring sosial yang menyatakan, tanpa bukti apa pun, bahwa pihak berwenang Mali sudah diberitahu sebelumnya perihal kedatangan 49 tentara militer Pantai Gading,” kata kementerian.
Sementara itu, PBB mengatakan “sangat menyesalkan” permintaan hengkang Salgado, wakil direktur komunikasi MINUSMA.
“Penting untuk dicatat bahwa doktrin persona non grata tidak berlaku untuk personel PBB,” kata wakil juru bicara PBB Farhan Haq kepada wartawan di New York seperti dilansir DW.
Multidimensional Integrated Stabilization Mission in Mali (MINUSMA) dibentuk pada 2013 guna membantu negara Afrika itu mengatasi kelompok Muslim bersenjata yang pada 2012 semakin gencar melakukan serangan hingga ke negara-negara tetangga dan menyebabkan jutaan orang di kawasan Sahel terpaksa mengungsi meninggalkan rumah-rumah mereka.
MINUSMA adalah salah satu operasi penjaga perdamaian terbesar PBB. Menurut situs web misi itu, ada 17.609 tentara, polisi, warga sipil dan sukarelawan yang dikerahkan pada April tahun ini.
Namun, misi itu juga merupakan salah satu operasi paling berbahaya, yang merenggut puluhan korban personel MINUSMA setiap tahun.
Mesir, kontributor pasukan tunggal terbesar MINUSMA, mengatakan pekan lalu akan “menangguhkan sementara” partisipasinya dalam operasi itu setelah tujuh tentaranya tewas tahun ini.
Prancis dan Jerman juga terlibat dalam MINUSMA. Namun, Paris mengumumkan awal tahun ini bahwa mereka akan menarik pasukannya.
Uni Eropa juga terlibat dalam dua misi pelatihan di Mali – EUTM dan EUCAP – bersama MINUSMA. Namun, blok kerja sama Eropa tersebut mengurangi operasinya karena junta militer Mali bekerja sama dengan tentara bayaran asal Rusia, Wagner Group.*