Hidayatullah.com–Pertempuran terburuk sejak tragedi Aleppo pada tahun lalu sedang berkecamuk di beberapa wilayah di Suriah, menyebabkan ribuan korban sipil, Komite Palang Merah Internasional (ICRC) mengatakan lapor Aljazeera pada 5 Oktober 2017.
Lebih dari 10 rumah sakit dilaporkan telah rusak dalam 10 hari terakhir, memutuskan akses ratusan ribu orang pada perawatan kesehatan, badan bantuan itu mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Kamis, menyuarakan peringatan akan situasi dari Raqqa hingga Idlib dan Ghouta timur.
“Selama dua minggu terakhir, kami telah melihat lonjakan tajam operasi militer mengkhawatirkan yang berkorelasi dengan tingginya tingkat korban sipil,” Marianne Gasser, kepala delegasi ICRC di Suriah, mengatakan.
“Rekan saya melaporkan kisah-kisah mengerikan, seperti kisah sebuah keluarga beranggotakan 13 orang yang lari dari Deir Az Zur hanya untuk kehilangan 10 anggota keluarganya dalam serangan udara dan alat-alat peledak di sepanjang perjalanannya.”
Baca: ‘Pesan Perpisahan’ dari Aleppo: Hentikan Genosida Ini!
Dalam perkembangan yang berbeda pada Kamis, dua kapal selam Rusia menembakkan 10 rudal jelajah “Kalibr” dari Laut Mediterania menuju target-target oposisi di provinsi Deir Az Zur untuk mendukung pasukan rezim Suriah, kantor-kantor berita Rusia mengutip perkataan kementrian pertahanan di Moskow.
ICRC melaporkan bahwa beberapa kamp di sekitar Raqq dan Deir Az Zur setiap hari menerima lebih dari 1.000 orang, termasuk banyak wanita dan anak-anak, serta menambahkan bahwa organisasi-organisasi kemanusiaan sedang berjuang menyediakan air, makanan dan kebutuhan dasar bagi orang-orang yang baru tiba.
“Operasi militer tidak boleh mengabaikan nasib penduduk sipil dan infrastruktur penting yang menjadi tempat bergantung mereka,” kata Robert Mardini, direktur regional ICRC untuk Timur Tengah.
“Menang dengan cara apapun yang diperlukan tidak hanya melanggar hukum tetapi juga tidak dapat diterima ketika mengorbankan nyawa manusia seperti itu. Kami sekali lagi meminta semua yang bertempur di Suriah untuk menahan diri, dan mematuhi prinsip-prinsip dasar hukum kemanusiaan internasional.”
Baca: Foto Omran, Bocah Aleppo Korban Kekejaman di Suriah jadi Sorotan
Badan Pengawas HAM Suriah, kelompok pemantau berbasis di Inggris, mencatat terbunuhnya 185 orang, termasuk 45 anak-anak dan 46 wanita antara 29 September hingga 4 Oktober dalam beberapa serangan, yang dilakukan baik oleh Rusia dan pemerintah rezim Suriah.
Sebelumnya pada Rabu, oposisi Suriah mengecam dalam pernyataannya “pembantaian mengerikan terhadap mereka yang berusaha menghindari perang di pinggiran Deir Az Zur”.
“Pesawat-pesawat tempur penjajah Rusiah telah melakukan pembantaian kejam di dekat kota al-Ashira selatan Deir Az Zur, yang menyebabkan terbunuhnya tidak kurang dari 50 penduduk sipil, kebanyakan wanita dan anak-anak”.
“Serangan pada para penduduk sipil yang menghindari peperangan terjadi ketika mereka sedang menyeberangi sungai Euphrates … ketika pesawat tempur Rusia secara langsung memeriami mereka, dan di tengah siang bolong,” pernyataan itu melanjutkan, bahwa terdapat puluhan ribu penduduk Suriah sedang berada di bawah kepungan dan menjadi target tentara rezim Suriah dan Rusia.
Militer Suriah, di bawah Presiden Bashar al-Assad, melancarkan sebuah operasi militer baru-baru untuk menduduki Deir Az Zur, salah satu kota di dekat sungai Eufhrate, yang kebanyakan diduduki oleh kelompok ISIS sejak 2014.
Baca: 60 Warga Sipil Terbunuh dalam Serangan Udara di Deir az Zur
Minggu lalu, Dokter untuk Hak Asasi Manusia (PHR) mengutuk Rusia dan pemerintah rezim Suriah atas “serangkaian serangan mematikan” pada rumah sakit di Suriah di Idlib, barat laut Deir Az Zur.
“Apa yang diberitahukan pada kita ialah bahwa ini seperti sebuah strategi untuk menghukum populasi penduduk sipil dan menghilangkan keberadaan rumah sakit sehingga perawatan kesehatan tidak mungkin terjadi,” Marianne Mollman, direktur penelitian dan investigasi PHR, mengatakan Aljazeera.
Pengeboman mengerikan terjadi pada tahun lalu selama pertempuran Aleppo, yang berakhir pada Desember 2016 ketika pemerintah rezim Suriah dukungan Rusia menduduki kota-kota besar dari petempur oposisi.
Abdulkafi Alhamdo, seorang profesor di Universitas Aleppo, yang berasal dari kota itu tetapi saat ini tinggal di pinggiran Aleppo setelah terusir karena perang, mengatakan para penduduk di bagian-bagian Aleppo berada dalam kondisi-kondisi “yang mengerikan”.
“Orang-orang sedang tinggal dalam mimpi buruk penangkapan yang dapat terjadi kapapun, dan banyak orang takut kembali ke [kota] Aleppo,” katanya pada Aljazeera via Skype.
“Tentu saja, serta pula di Aleppo saat ini tidak ada pelayanan apapun – tidak ada listrik, air – karena semua kabel dan pipa telah hancur atau dicuri ketika Assad menduduki wilayah timur Aleppo,” Alhamdo menambahkan.*