Hidayatullah.com – Turki mengatakan pada Senin bahwa telah “menetralisir” 101 tentara rezim Suriah menyusul serangan yang membunuh lima tentara Turki di Suriah barat laut, provinsi Idlib, benteng terakhir oposisi lapor Anadolu Agency pada 11 Februari 2020.
Tiga tank dan dua meriam juga dihancurkan, kementerian pertahanan Turki mengatakan, seraya menambahkan bahwa sebuah helikopter Suriah juga ditembaknya.
Serangan itu terjadi setelah pasukan rezim Suriah menyerang sebuah pos militer Turki, membunuh lima tentaranya, kementerian pertahanan Turki mengatakan pada awal Senin.
Meningkatnya ketegangan ini terjadi setelah ancaman serangan militer Turki terhadap rezim Suriah yang sedang melanjutkan operasi militernya merebut benteng terakhir oposisi negara yang hancur karena perang itu.
Serangan mortir rezim membunuh delapan personel Turki pada pekan lalu mendorong Ankara untuk memperkuat posisinya, beberapa di antaranya dengan mengelilingi posisi tentara Suriah.
Juga pada Senin, pasukan kelompok oposisi yang didukung Turki melancarkan serangan baru terhadap pasukan yang setia pada Bashar al-Assad dalam upaya mereka merebut kembali kota penting Saraqeb, Idlib, yang kembali dikuasai Damaskus.
Laporan-laporan menunjukkan kelompok oposisi dilengkapi dengan kendaraan lapis baja dan persenjataan baru yang dipasok oleh Turki.
Saksi mata juga mengatakan pasukan Turki juga ikut membantu dalam serangan baru itu dengan menembaki posisi-posisi rezim Suriah di wilayah tersebut, Reuters melaporkan.
Serangan artileri rezim Suriah menewaskan lima tentara Turki dan melukai lima lainnya dalam apa yang disebut kementerian pertahanan Turki sebagai “serangan hebat” pada pos militer di daerah Taftanaz di utara Saraqeb.
Serangan itu menarget para tentara “yang dikirim sebagai bala bantuan ke wilayah itu yang bertugas mencegah bentrokan di Idlib, memastikan keamanan perbatasan kami dan menghentikan migrasi serta tragedi kemanusiaan”, kementerian menambahkan dalam pernyataannya.
Pasukan Turki kemudian membalas, katanya, “menyerang target-target.”
“Perkembangan telah diamati dengan cermat dan langkah-langkah yang diperlukan sedang diambil,” tambahnya.
Fahrettin Altun, ajudan pers Erdogan, mengatakan di Twitter bahwa “Turki membalas serangan terhadap mereka untuk menghancurkan semua target musuh dan membalaskan tentara kami yang gugur.”
Dia menambahkan: “Penjahat perang, yang memerintahkan serangan keji hari ini, menargetkan seluruh masyarakat internasional, tidak hanya Turki.”
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Menteri Pertahanan Hulusi Akar segera melakukan pertemuan menyusul serangan itu, stasiun televisi NTV melaporkan.
Turki telah memperkuat posisi-posisi ini sejak bentrokan Senin dengan pasukan rezim, yang membunuh delapan personel Turki dan 13 tentara Suriah, dengan mengirim setidaknya 350 kendaraan dengan komando yang didukung oleh kendaraan lapis baja.
Ankara mendesak rezim untuk mundur ke garis genjatan senjata yang disetujui pada 2018, memperingatkan bahwa itu tidak dilakukan, Turki akan mengerahkan “Rencana B”nya yang telah dipersiapkan.
Tetapi rezim yang didukung Moskow telah meningkatkan serangannya terhadap benteng oposisi besar terakhir, tempat tinggal bagi tiga juta warga sipil.
Ankara bersumpah akan melindungi pos-pos militernya di Idlib dan mengutuk rezim karena menyerang populasi sipil provinsi itu, sekitar separuh dari mereka adalah warga sipil yang mengungsi dari wilayah lain di Suriah.
Tetapi Turki telah mengambil pendekatan yang lebih agresif dengan rezim selama beberapa tahun terakhir, mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran jika rezim gagal menghentikan operasi militernya, karena khawatir kekerasan baru akan menimbulkan gelombang pengungsi baru ke Turki.
Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan pada Senin hampir 700.000 orang di barat laut Suriah telah terlantar sejak Desember. Banyak dari mereka terpaksa mengungsi ke perbatasan Turki, yang telah menjadi penampungan lebih dari 3,6 juta pengungsi Suriah.
Sebagian pengungsi tinggal di penampungan terbuka dan tenda-tenda darurat dalam kondisi musim dingin yang membeku. Separuh dari mereka diperkirakan anak-anak.
Sementara itu, sebuah bom mobil meledak di kota Suriah yang dikontrol oleh pasukan oposisi Turki pada Senin, membunuh setidaknya empat orang dan melukai 15 lainnya, Anadolu Agency melaporkan.
Bom itu adalah gelombang kekerasan terbaru di wilayah yang dikontrol Turki yang membunuh dan melukai sejumlah orang. Turki menuduh Unit Perlindungan Rakyat (YPG), milisi Kurdi Suriah yang dianggapnya kelompok teroris, bertanggung jawab atas serangan bom itu.
Bom meledak di jalan utama di kota Afrin, yang Turki kendalikan setelah serangan militer pada 2018, Anadolu melaporkan. Dikatakan beberapa orang yang terluka berada dalam kondisi serius, menambahkan bahwa jumlah korban jiwa kemungkinan akan meningkat.*