Hidayatullah.com–Presiden Suriah Bashar Assad mengungkap penyesalan dan meminta maaf atas insiden penembakan tentaranya, yang menyebabkan 2 pesawat perang RF-4E milik Turki jatuh di kawasan udara internasional yang merupakan zona bebas perang pada 22 Juni 2012.
Penyesalan Assad atas insiden 22 Juni itu disampaikannya dalam wawancara dengan harian Turki Cumhuriyet, yang terbit Selasa (03/07/2012). Selain menyatakan penyesalannya, Assad mengklaim pesawat Turki itu terbang di wilayah yang pernah digunakan Angkatan Udara Turki.
Bashar menjadikan phobia Israel sebagai alasan penembakannya. Dia mengatakan bahwa pesawat itu terbang di tengah wilayah udara Suriah yang pernah dilewati oleh pesawat Israel pada tahun 2007, ketika Israel membom sebuah bangunan yang sedang dibangun di Suriah utara.
“Pesawat (Turki) itu menggunakan daerah yang sama yang pada masa lalu dilewati pernah digunakan 3 kali oleh Israel, tentara (Suriah) menembaknya jatuh karena kami tidak bisa memantaunya dalam radar kami dan kami tidak diberitahu, “katanya.
Dikutip BBC, Assad membantah tudingan Turki bahwa angkatan bersenjata Suriah menembak pesawat jet F-4 yang tengah dalam misi latihan itu dengan sengaja.
“Sebuah negara yang sedang dalam situasi perang memang selalu melakukan hal seperti itu,” tambah Assad.
Pemerintah Turki sendiri membantah bahwa penerbangan angkatan udaranya tidak melakukan kordinasi dengan pihak Suriah. Dalam rekaman yang dimiliki, Pemerintah Turki menegaskan telah terjadi komunikasi antara pilot pesawat perang RF-4E milik Turki dengan penjaga radar Suriah.
Sumber inteligen Turki sendiri menjelaskan bahwa pilot pesawat RF-4E telah menggunakan kode lazim yaitu “Neighbor” untuk kode negara Turki dan “Komsu” sebagai kode negara Suriah saat melakukan interaksi radio sebagai proses izin akses udara dari pilot ke penjaga radar di Suriah.
Bahkan selain itu, pilot pesawat telah melakukan kordinasi melalui sinyal elektronik pesawat yang bisa membedakan mana pesawat teman dan mana pesawat musuh.
Assad mengatakan Suriah tidak berniat memicu ketegangan di sepanjang perbatasan dengan anggota NATO.
“Kami berada dalam keadaan perang, sehingga setiap pesawat tak dikenal adalah pesawat musuh, Izinkan saya menyatakan sekali lagi, kami tidak tidak bermaksud untuk menembak jatuh pesawat (Turki) tersebut,” jelasnya.
Kondisi perbatasan Suriah dan Turki sendiri semakin memanas. Terlebih ketika Turki telah mempersiapkan rudal anti pesawat dan menerbangkan jet-jet tempurnya dikawasan perbatasan dan zona terbang internasional sambil mencari dua pilot mereka yang hilang di perairan Suriah.
Bahkan beberapa kali pesawat tempur ini telah berhadap-hadapan langsung dengan helikopter Suriah, namun hingga berita ini diturunkan belum terjadi baku tembak diantara keduanya.*