Hidayatullah.com— Aleppo Timur telah berubah menjadi kuburan raksasa akibat aksi terorisme Rezim Bashar al Assad dengan dibantu sekutunya Rusia dan Iran. Warga yang terkepung dan hidup dalam ancaman kematian serta kelaparan mengucapkan ‘selamat tinggal’ dan salam perpisahan melalui media sosial dan twitter .
Seorang penduduk Aleppo, Lina Shamy memberi pesan melalui video di twitter kondisi Aleppo, tidak ada lagi jalan keluar setelah tentara rezim keji memasuki kota tersebut.
“Manusia seluruh dunia, bangun dari tidur! Anda bisa buat sesuatu! Hentikan genosida ini!” kata Lina dalam videonya. Lina yang juga seorang aktivis ini membuat ucapan selamat tinggal dan mengatakan video tersebut adalah yang terakhir.
“Ini mungkin adalah video terakhir saya. Lebih dari 50 ribu aktivis yang memberontak terhadap diktator (Presiden Suriah Bashar) al-Assad diancam dengan eksekusi atau mungkin sedang sekarat akibat terkena bom,” ujar Lina Shamy, seorang aktivis di Aleppo timur, dalam sebuah video yang diunggah ke Twitter , Selasa (13/12/2016).
Seorang wartawan, Bilal Abdul Kareem mengatakan jet tempur pemerintah semakin aktif menjatuh bom ‘bunker busters‘ untuk menghancurkan ruang perlindungan bawah tanah.
Terjebak di Sebuah Bangunan, 100 Anak Aleppo Dihujani Bom Rezim Bashar
Dr Salim abu Al-Naser, seorang dokter gigi di Aleppo timur, berbagi video serupa.
“Ini bisa menjadi permohonan terakhir saya…semua orang yang bisa mengirim pesan kepada pemerintah untuk negaranya…minta mereka untuk menghentkan agresi, hentikan pembunuhan, hentikan perang,” kata Al Nasser dalam sebuah video yang diunggahnya pada 13 Desember 2016.
Seorang guru bahasa Inggris dan aktivis, Abdul Kafi Alhamdo meminta bantuan agar putrinya dapat diselamatkan.
“Saya harap Anda bisa buat sesuatu kepada penduduk Aleppo. Untuk anak perempuan saya, untuk anak-anak lain,” ajak Abdul.
“Sudah tidak percaya lagi dengan PBB. Sudah tidak percaya lagi dengan komunitas internasional. Mereka sepertinya puas dengan tewasnya banyak warga di sini,” tutur al-Hamdo.
“Rusia tidak ingin kami pergi dari sini dalam keadaan hidup. Mereka ingin kami tewas. Assad juga bersikap sama. Kemarin, ada perayaan di bagian lain dari Aleppo. Mereka merayakan jasad-jasad kami,” tambah dia.
Seorang wartawan warga Amerika Serikat (AS) juga mengirim pesan beliau yang terakhir dalam bentuk video yang disulami suara ledakan dan tembakan.
Kelompok relawan, White Helmets menggambarkan Aleppo kini ‘bagaikan Neraka’.
“Mayat bergelimpangan memenuhi jalan dan memenuhi gedung yang hancur dibom,” kata pernyataan dari kelompok tersebut pada Senin.
Solidaritas Aleppo
Sebelumnya, menghadapi duka ini, lampu menara Eiffel yang berada di Paris akan dipadamkan. Wali Kota Paris, Anne Hodalgo mengatakan, menara Eiffel gelap pada pukul 20.00 waktu setempat sebagai simbol keprihatinan terhadap korban di Aleppo, Suriah.
Mufti Arab Saudi: Qunut Subuh untuk Aleppo di Seluruh Masjid
Aksi seperti ini sebelumnya sudah pernah dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap korban kekerasan yang berada di seluruh dunia. Salah satunya saat melakukan penghormatan para korban serangan di Paris pada bulan Januari dan November tahun lalu.
Ribuan warga sipil masih terjebak di wilayah tersebut, yang dideskripsikan juru bicara Persatuan Bangsa-Bangsa sebagai “krisis kemanusiaan.”
Sebagaimana diketahui, pasukan rezim keji Bashar al Assad yang didukung Rusia dan Iran telah menguasai sebagian besar Aleppo timur, yang sebelumnya dikuasai kelompok pembebasan selama lebih kurang empat tahun. Dalam operasi penyapuan terakhir di sana, terdapat sejumlah laporan adanya pasukan pemerintah yang melakukan eksekusi massal terhadap warga pro oposisi dan pembebasan.
Laporan relawan kemanusiaan di Aleppo, tentara pro rezim Bashar al-Assad telah membunuh warga setiap jam dengan tuduhan memiliki kaitan dengan kelompok pembebasan, Free Syrian Army (FSA).*