Hidayatullah.com–Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap semua partai politik besar secara umum menurun dibandingkan dengan tahun lalu. Hanya Partai Golongan Karya yang mengalami penurunan tingkat kepercayaan masyarakat paling rendah, hanya 2% sehingga menjadi 48% pada tahun ini. Hal itu terungkap dari hasil survei opini masyarakat Indonesia yang dilakukan International Foundation for Electoral System (IFES) sepanjang Juni-Juli. ”Survei dilakukan terhadap 3.000 responden yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia,” papar Yanti Sugarda, Koordinator Peneliti IFES, dalam presentasinya di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jakarta, seperti ditulis Suara Merdeka. Penurunan tingkat kepercayaan terbesar terjadi pada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Tahun lalu, partai yang dipimpin Megawati Sukarnoputri masih mendapat kepercayaan tinggi, yaitu 72%. Namun pada tahun ini kepercayaan publik merosot drastis 22% hingga tinggal 50% saja. Adapun Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pimpinan Wakil Presiden Hamzah Haz turun 15%, yaitu dari 67% menjadi 52%. Sementara itu, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang didirikan mantan presiden Abdurrahman Wahid dan Partai Amanat Nasional (PAN) dengan Ketua Umum Amien Rais yang tahun lalu meraup tingkat kepercayaan masyarakat 60%, kini masing-masing anjlok menjadi 50% dan 47%. Keunggulan Golkar dibandingkan partai-partai lainnya juga terlihat dari pengetahuan masyarakat atas berbagai partai saat ini. Partai pimpinan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Akbar Tandjung itu diketahui oleh 88% masyarakat, sedangkan PDI-P di urutan kedua 84%. Sementara itu partai lainnya, PPP 68%, PKB 58%, dan PAN 57%. Lebih lanjut Yanti mengemukakan, hasil survei itu dapat menjadi rekomendasi bagi partai-partai besar untuk berbenah diri menjelang pelaksanaan pemilu tahun depan. Caranya dengan memperbaiki kebijakan atau program partai politik dan menyosialisasikan figur tokoh dalam sebuah partai. ”Sebanyak 19% responden memilih kebijakan atau program partai dalam mempertimbangkan dan memutuskan pilihannya. Adapun figur menjadi pertimbangan 34% responden,” jelas dia. Yanti juga mengakui secara mengejutkan hubungan partai politik berdasarkan agama dan organisasi keagamaan hanya menjadi pertimbangan oleh 3% responden. (sm)