Hidayatullah.comUsai khutbah Jumat, Ustadz Abu ?begitu orang biasa menyapanya? bergegas pulang. Baru 500 meter meninggalkan masjid, tiba- tiba ia menghentikan langkah. Tiga orang pemuda bersenjata badik dengan wajah merah padam berdiri tegap, tepat di depannya. Mereka saling bertatapan. Suasana menjadi sangat tegang. Tak berapa lama berselang, sebilah badik sudah menempel di perut sang ustadz, siap merobek kapan saja. Namun, Abu berusaha tetap tenang, meskipun butiran air sebesar biji jagung sudah keluar dari dahinya. Dan jantung pun berdebar kencang. ?Kamu jangan banyak bicara! Aku tikam kamu!? ancam salah seorang pemuda. ?Kamu ini sok pintar. Dasar orang pandai, sering menyinggung perasan orang!? gertak pemuda lainnya tak kalah seram. Abu masih tetap berusaha tenang. ?Maaf, jika khutbah saya menyinggung Anda,? katanya. Rupanya, ketiga pemuda itu tersinggung dengan isi khutbah yang tadi disampaikan Abu. Dalam khutbah tersebut sang ustadz bercerita tentang kejahiliyahan masyarakat Desa Bonto Lempangan, Kecamatan Sapaya, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sekitar 80 km dari kota Makassar. Mereka masih senang mabuk-mabukan dengan minum ballo (tuak), judi, hingga berkelahi. Bahkan, seringkali berakhir dengan pembunuhan. Syukurlah diplomasi Abu berhasil. Emosi ketiga pemuda itu redam. Setelah ketiganya berlalu, Abu menarik nafas panjang seraya berkata, ?Dakwah memang tak mudah. Apalagi terhadap umat Islam yang masih awam.? Aktivis Kampus Abu Bakar Muis, begitulah nama lengkapnya, lahir di Bima (NTB), 12 Mei 1967. Anak pertama dari pasangan Muhdar Ishak dan Siti Nur binti HM Tahir Fatta ini sejak kecil memang punya minat besar memperdalam agama. Kakeknya, HM Tahir Fatta, adalah tokoh Muhammadiyah Bima. Berkat bimbingan sang kakek, semenjak kecil Abu tak pernah ketinggalan shalat 5 waktu. Bahkan, ia juga paling aktif mendengarkan ceramah. Semangat dakwah Abu makin menggebu saat mahasiswa. Ia tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Nutrisi Makanan Hewan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Mataram. Namun belum sampai menyelesaikan semester 1, ia pindah ke Universitas Muslim Makassar (UMI). Di sini mengambil Jurusan Komunikasi Islam. Di tempat inilah, Abu seakan menemukan ?dunianya?. Ia ikut aktif di berbagai kegiatan. Mulai dari senat, BPM (Badan Permusya-waratan Mahasiswa), hingga Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) komisariat UMI. Bahkan, di sela-sela kesibukannya, Abu masih sempat bekerja untuk menambah biaya kuliah dan memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Abu menjalani semua itu dengan senang. Meski untuk itu ia harus rela melewati tujuh tahun masa kuliah. Selain aktif di berbagai organisasi, Abu juga banyak terlibat di berbagai kegiatan dakwah. Hingga suatu hari sebuah LSM bernama Yayasan Insan Cita (YIC) mengutusnya berdakwah di Desa Bonto Lempangan, bersama dua orang rekannya. Pergilah ia dengan bekal apa adanya. ?Pertama kali tugas di sana, saya hanya bermodal uang transport,? kata Abu. Untuk menjangkau lokasi dakwah, Abu dan dua rekannya harus berjalan kaki puluhan kilometer. Maklum, di sana tak ada sepeda motor, apalagi mobil. Yang ada hanyalah hamparan bukit dan pegunungan. Medan dakwah di Desa Bonto Lempangan tak mudah. Masih banyak masyarakat yang berbuat syirik. Belum lagi kegemaran menenggak minuman keras, berjudi, dan berkelahi. Namun semua itu dilewati Abu dengan sabar. Kesabaran itu pula yang memikat hati seorang wanita bernama Jumariah untuk mau menerima lamaran Abu. Wanita itu kemudian menjadi istrinya. Setelah menikah, Abu diberi sebuah tempat tinggal sederhana di kompleks perumahan guru SD Negeri Bonto Lempangan. Itu semua berkat jasa Haji Khalik, seorang tokoh masyarakat. Meskipun ukurannya hanya 3×4 meter persegi, namun sangat membahagiakan Abu. Di desa itulah putra pertamanya, Alimul Muhtsyam, lahir (1994). Tak terasa, 5 tahun sudah Abu berdakwah di kaki gunung Bawakaraeng itu. Tanda-tanda keberhasilan dakwahnya mulai terlihat. Sejumlah pemuda yang dulu sering minum-minuman ballo, sudah mau diajak shalat lima waktu berjamaah. Sebuah Taman Pendidikan Al-Quran juga telah berdiri. Ratusan anak sudah bisa baca tulis Al-Qur?an. Bahkan, Abu bersama dua rekannya juga berhasil mendirikan Madrasah Aliyah (MA) yang berwawasan lingkungan. Alhamdulillah! Selesaikah dakwah Abu? Tidak! Ia tak puas dengan semua keberhasilan itu. Ia masih ingin memperluas dakwahnya hingga ke daerah-daerah lain. Untuk memenuhi cita-citanya ini, Abu akhirnya bergabung dengan sebuah pesantren di Makassar. ?Dakwah buat saya sudah menjadi cita-cita, bukan sekadar ikut-ikutan,? kata Abu. Di Tambang Nikel Semenjak bergabung dengan Pesantren Hidayatullah, tugas dakwah Abu semakin banyak. Sebuah daerah bernama Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, sekitar 700 km dari kota Makassar, telah menantinya. Dari tempat ini Abu mulai sering berpindah-pindah lahan dakwah. Setelah 1,5 tahun di Soroako, ia dipin-dahkan ke Kabupaten Kolaka, Sulawei Tenggara. Baru 10 bulan di Kolaka, ia kembali dipindahkan ke kota Aru Palakka, Kabupaten Bone. Selama 2 tahun bertugas di Kabupaten Bone tahun 2002, ia kembali ditarik ke Soroako. Di kota penghasil nikel terbesar di Asia Tenggara itu Abu menetap dengan amanah sebagai ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Hidayatullah, Soroako. Tantangan dakwah di Soroako terasa lebih berat bagi Abu dibanding lahan-lahan dakwah sebelumnya. Di tempat ini Abu harus bersaing dengan para missionaris yang juga mencari ?mangsa? dengan kedok pekerja asing di PT Inco. Jika para missionaris menggunakan helikopter untuk mencapai daerah-daerah terpencil, tidak demikian halnya dengan Abu. Ia hanya menggunakan alat transportasi apa adanya. Terkadang Abu harus berjalan kaki sejauh puluhan kilometer, mencapai desa-desa yang berbatasan langsung dengan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Desa Mahalona, Kecamatan Towuti, adalah salah satu desa terpencil yang sering didatangi Abu. Jaraknya sekitar 60 km dari Kecamatan Wawondula. Untuk mencapai desa ini Abu harus menggunakan tiga jenis alat transportasi. Awalnya naik angkutan umum dengan biaya Rp 5 ribu. Kemudian menyisir pinggir danau Towuti dengan ketinting (sejenis kapal kecil) selama 1,5 jam, biaya Rp 10 ribu. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan menumpangi truk pajeka? (truk penarik kayu di hutan) sejauh 10 km dengan biaya Rp 10 ribu. Terakhir, berjalan kaki sejauh 2 km. Untunglah Abu disambut ramah oleh penduduk desa yang mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai pencari kayu hutan ini. Terkadang Abu harus bermalam hingga dua malam. Ada saja masyarakat yang menawarkan tempat menginap kepada Abu. Siangnya Abu harus mengisi pengajian rutin bulanan kepada bapak-bapak di desa itu. Sorenya pengajian ibu-ibu. Perjalanan dakwah Abu di tambang nikel memang tak segencar aksi para missionaris. Maklum, kaum kafir tersebut sudah lebih dulu masuk Beteleme. Mereka menyebarkan agamanya kepada kaum Muslim sejak tahun 1970. ?Sebelum ada lapangan udara di kota Soroako, pesawat dan helikopter PT Inco harus mendarat di Beteleme,? terang Haryanto, salah seorang simpatisan pesantren. Beteleme sendiri adalah pusat missionaris di Luwu Raya, Sulawesi Selatan. Apapun yang dilakukan Abu dengan segala keterbatasannya tentu sangat membantu membentengi iman kaum Muslim di sekitar tambang nikel. Semoga segera muncul ?Abu-Abu? yang lain. (diambil dari majalah Hidayatullah, edisi terbaru Juni 2004. Baca juga, wawancara khusus dengan Dr. Salim Segaf Al-Jufrie, tentang fatwa syar’i memilih capres kali ini. “Pilih Presiden yang kecil mudharatnya,” ujarnya. Juga Wawancara Exclusive dengan istri almarhum Al-Syahid, Dr. Abdul Aziz Rantisi, Roysa, semasa mendamping mendiang pemimpin HAMAS itu. Juga kolom tentang “Tiga Muslihat Menyerang Mushaf Utsmani” oleh kalangan liberal. Penting juga baca “Hitam Putih Kandidat RI-1”, berisi track-record calon presiden dan wapres RI mendatang. (Hidayatullah)