Hidayatullah.com–Seperti diberitakan di TVRI, KH Adib Rofi’uddin Izza, salah satu kiai berpengaruh di Jawa Barat yang juga Ketua Umum Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Ponpes Buntet kepada pers di pondoknya, Desa Mertapada Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Kamis kemarin mengatakan, keinginan Gus Dur untuk mengganti KH Hasyim Muzadi dengan calon pilihannya merupakan hak dia sebagai warga NU. Namun, menurut KH Adib, Gus Dur tidak bisa memaksakan kehendaknya sendiri tanpa melalui mekanisme yang berlaku, yakni pada forum Muktamar NU yang akan digelar 28 November-3 Desember 2004. Ponpes Buntet merupakan salah satu pondok paling berpengaruh di lingkungan NU. Sebelumnya, Gus Dur sempat memunculkan nama Prof Drs Cecep Syarifuddin salah seorang Ketua PBNU sebagai Ketua Umum (Tanfidziyah) PBNU mendatang untuk mengganti KH Hasyim Muzadi. Cecep dikenal dekat dengan Gus Dur. “NU itu bukan milik Gus Dur. Bila dia (Gus Dur) mau mengusulkan seseorang silakan saja, karena semua warga NU berhak mengajukan usul untuk mencalonkan siapa saja memimpin NU. Jangankan usul, mencalonkan dirinya saja boleh kok, tapi harus lewat mekanisme Muktamar NU. Tidak bisa dibenarkan apabila keinginan mengganti hanya kerena keinginan orang per orang,” kata KH Adib. Pernyataan yang bertolak belakang dari tokoh Ponpes Buntet tersebut tentu sangat mengejutkan, karena selama ini Ponpes Buntet sebagai salah satu pondok pesantren NU tertua dan berpengaruh di Indonesia tersebut memiliki hubungan dekat dengan Gus Dur. Hampir dalam setiap momen penting Gus Dur selalu menyempatkan berkunjung ke Ponpes Buntet, baik untuk bersilaturahmi, meminta saran atau bahkan meminta dukungan politik. Namun, kemesraan itu tampaknya berakhir saat menghadapi pemilihan presiden lalu. Dalam Pemilu putaran kedua kemarin, Ponpes Buntet lebih memilih pasangan Mega-Hasyim dibandingkan pasangan yang direstui Gus Dur, yakni Wiranto-Solahuddin Wahid maupun SBY-Kalla. Sebagaimana diketui, kepada pers beberapa saat laluu, Gus Dur pernah menyatakan akan maju lagi dalam Muktamar NU ke-31 di Donoyudan, Surakarta, Jateng 28 November-2 Desember 2004. “Jelas dong saya mau maju lagi, sebagai apa, itu soal lain,” katanya di kediamannya di Ciganjur, Jakarta. Dia menegaskan bahwa dirinya akan bersaing dengan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi yang menyatakan akan kembali memimpin PBNU setelah Pemilu Presiden 20 September 2004. Gus Dur memimpin Nadhlatul Ulama (NU) semenjak tahun 1984 hingga 1999. Selama hampir 15 tahun, Gus Dur menjadi pemimpin NU hingga ia mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Kini, setelah Gus Dur pensiun, banyak pihak –terutama kalangan NU– menginkan orang-orang muda yang mendapat kesempatan memimpin organisasi yang didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari itu. (tvri/cha)