Hidayatullah.com—Dalam waktu tak lama lagi, Nahdlatul Ulama akan mendirikan perguruan tinggi bertaraf internasional. Perguruan tinggi yang dibangun di atas lahan seluas 14, 6 hektare di daerah Wonogrejo, Sukolilo Surabaya itu ditengarai menelan biaya sebesar 600 milyar.
Pembangunan perguruan tinggi tersebut akan dimulai sebelum digelarnya Muktamar NU ke-32 di Makassar. Kemarin, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bersama Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial Nahdlatul Ulama (YTPSNU) Khadijah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk membangun Perguruan Internasional NU.
Penandatanganan MoU itu dilakukan Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi, bersama Ketua Umum YTPSNU Khadijah, Khofifah Indar Parawansa, di sela-sela seminar nasional pendidikan dan lokakarya bertajuk ’Kebijakan dan Program Penguatan Sekolah Bertaraf Internasional di Lingkungan NU’ yang digelar di Aula Bir Ali Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Kamis (8/10).
Dalam kesempatan itu, Khofifah menuturkan, perguruan internasional NU yang digagas YTPSNU Khadijah itu merupakan bentuk pengembangan yang menyeluruh (komprehensif).
Dalam master plan, perguruan internasional NU bakal dilengkapi dengan gedung PAUD, SD, SMP, SMA, perpustakaan, laboratorium, dan workshop. Ada juga kantor yayasan, asrama putra-putri, wisma guru, wisma tamu, kediaman kiai, poliklinik, mini market, dan stationary.
Komplesk itu juga akan dilengkapi fasilitas umum berupa masjid, gedung olah raga (GOR), menara air, lapangan futsal, lapangan tenis, pos keamanan, ruang genset, dan pompa.
“Nantinya, perguruan tinggi tersebut akan terintegrasi dengan semua tingkat, mulai PAUD, SD, SMP, dan SMA, dan semuanya full English program,” katanya.
Menurut Khofifah perguruan internasional NU akan fokus pada banking and finance, commerce, bussines law, serta bussines and management. “Kita ingin menciptakan generasi muslim yang religius, kompetitif, dan profesional,” imbuh Khofifah.
Menurut Khofifah yang juga Ketua PP Muslimat NU ini, konsep pengembangan Perguruan Internasional NU sudah digarap selama dua tahun. Pematangan konsep tersebut melibatkan konsultan internasional Andrew Tani & Co yang di-hire oleh Depdiknas untuk mengembangkan master plan pendidikan nasional. Sedangkan konsultan konstruksi bangunannya melibatkan tim ITS.
“Lahannya siap, konsepnya siap, konstruksinya siap. Mudah-mudahan peletakan batu pertamanya bisa dilakukan sebelum Muktamar dilakukan Januari mendatang,” ujarnya.
Hadir dalam penandatanganan sekaligus peluncuran program ini KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum PB NU, serta KH Miftahul Ahyar, Rois Syuriah PW NU Jawa Timur dan Ketua PWNU Jatim, KH. Mutawakil Allallah.
Khofifah berharap, lembaga pendidikan di bawahnya ini akan bisa memacu diri memperbaiki manajemen. Salah satu cara ampuh ialah memacu peningkatan status lembaga pendidikan. Misalnya, dengan meraih status sekolah standar nasional (SSN) ataupun RSBI (rintisan sekolah bertaraf internasional).
“Kalau tidak bisa full english, bilingual, atau international school, minimal ya SSN lah,” harap Khofifah.
Namun Ketua PWNU Jatim, KH Hasan Mutawakil Alallah, menuturkan, konsep pengembangan sekolah internasional di lingkungan NU sangat bagus. Meski demikian,ia mengingatkan jangan sampai identitas dan nilai-nilai dasar ahlussunnah wal jama’ah tergerus.
“Kalau bisa, unggul di bidang sains sekaligus unggul pada nilai-nilai agama. Jangan hilangkan identitas dan karakteristik,” harapnya. [cha/dm/ss/ini/hidayatullah.com]