Hidayatullah.com–Memasuki hari terakhir sekaligus puncak acara dari pelaksanaan Muktamar XIV Persis, dilakukan pemilihan Ketua Umum. Seperti sudah banyak diperkirakan oleh peserta Muktamar sebelumnya, akhirnya Prof.Dr. KH. M. Maman Abdurrahman, MA terpilih kembali untuk memimpin Persatuan Islam (Persis) lima tahun mendatang.
Dalam pemilihan yang berlangsung Senin (27/9) di Pesantren Persis Benda Tasikmalaya, Maman berhasil mengalahkan tiga kandidat lainnya, yakni, Atip Latifulhayat,SH,LLM,Ph.D dan KH. Aceng Zakaria.
Dalam pemilihan yang berakhir hingga menjelang Isya ini, Prof DR. Maman Abdurrahman memperoleh 156 suara, dan Atif Latifulhayat 54 suara. Sementara Pimpinan Ponpes Persis Rancabango Garut ,KH. Aceng Zakaria hanya memperoleh dukungan 36 suara.
Terpilihnya Maman Abdurrahman, nampaknya mewujudkan sebagian besar keinginan warga Persis bahwa Persis harus dipimpin seorang kyai yang mempunyai inetektual akamedik.
Pria kelahiran Ciamis,7 Agustus 1948 saat ini tercatat sebagai Guru Besar di Universitas Islam Bandung (Unisba) serta Dosen Pascasarjana di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Dalam sambutan pidatonya usai dirinya dinyatakan sebagai Ketua Umum Persis 2010-2015, ia mengatakan, dirinya siap mengemban amanah yang telah diberikan jama’ah Persis. Namun Maman juga minta dukungan dari semua warga Persis demi terwujudnya program kerja yang telah dirumuskan sebelumnya.
Dalam perbincangan dengan hidayatullah.com sebelum dirinya terpilih kembali, Maman sempat menyampaikan pesan bahwa ke depan Persis juga harus bisa merespon kondisi kekinian,seperti masalah liberalisme, pluralisme, dan sekularisme.
“Untuk itu Persis akan tetap dan terus menguatkan tarbiyah pada jama’ah dengan berbasis pada pesantren dan madrasah-madrasah yang dimilki Persis,” ungkap Maman.
Sementara saat disinggung masalah budaya yang berkembang dalam masyarakat,Maman mengatakan, Persis akan mengambil sikap tawasut (pertengahan), yakni mempertimbangkan apakah budaya tersebut berkaitan langsung dengan akidah, ibadah, atau muamalah.
“Persis akan menolak budaya yang berpotensi merusak akidah karena hal itu bisa masuk kategori syirik,” jelasnya.
Dalam kepemimpinannya kali ini Maman ingin memajukan Persis dengan mencoba melebarkan peran Persis di luar Jawa, terutama Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, meski diakuinya hal tersebut tidaklah mudah.
Dalam kepemimpinan Maman kali ini peserta Muktamar tetap mengamanahkan agar Persis segera mendirikani sebuah universitas yakni Universitas A. Hasan, yang perintisannya sendiri saat ini telah berjalan dengan mengambil lokasi di Kabupaten Bandung. Dengan berbekal pengalaman akademiknya, keinginan jamah’ah Persis yang telah berusia 87 tahun ini nampaknya segera terwujud. Hal tersebut juga telah mendapat dukungan dari Menteri Pendidikan Nasional, Muhammad Nuh saat memberikan ceramahnya di hadapan ribuan peserta muktamar dua hari yang lalu. [man/hidayatullah.com]