Hidayatullah.com–Bank Indonesia meminta perbankan syariah lokal untuk bersiap menghadapi masuknya bank-bank syariah dari luar negeri yang mendapatkan izin beroperasi di Indonesia. “Bank syariah lokal harus berkemas dengan pelayanan yang lebih baik, harus bersiap-siap karena asing mulai masuk ke perbankan syariah Indonesia,” kata Direktur Direktorat Perbankan Syariah Mulya E Siregar di Jakarta, Rabu (20/10). Dikatakannya, Maybank Indocorp telah mendapatkan izin dari Bank Indonesia untuk membuka kantor Maybank syariah di Indonesia dan telah mulai beroperasi pada 11 Oktober lalu. “Maybank syariah akan fokus pada korporat. Tidak ada yang bisa melarang mereka mau fokus di korporat atau ritel. Bagi BI yang penting bank itu sehat,” katanya. Selain Maybank, menurut Mulya, meski belum ada bank asing yang mengajukan izin untuk mendirikan bank syariah di Indonesia, sejumlah investor telah secara lisan menanyakan berbagai aturan dan syarat mendirikan bank syariah. “Sudah banyak yang menelpon saya menanyakan aturan dan prosesnya, meski belum ada yang mengajukan izin resmi,” katanya. Salah satu pertanyaan beberapa orang asing yang berminat itu adalah mengenai pengenaan pajak terhadap produk-produk perbankan syariah yang kerap dianggap terdapat pengenaan pajak dobel. Mengenai hal ini, Mulya mengatakan, tim dari BI sudah melakukan pembicaraan dengan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu untuk membahas kemungkinan adanya insentif pajak bagi produk bank syariah. “BI sedang susun kajian bersama BKF mengenai pemetaan masalah perpajakan yang berlaku pada Bank Syariah. Perlukah tax insentif? Kita libatkan juga Ikatan Akuntan Indonesia untuk melihat kemungkinan insentif pajak itu itu secara akuntansi. Kita harapkan akhir tahun ini selesai,” katanya. Bank Indonesia mencatat, aset perbankan syariah hingga September 2010 mencapai Rp 85,9 triliun atau tumbuh 43 persen dibanding September 2009 (year on year/yoy). “Jumlah itu terdiri dari aset bank umum syariah Rp 65,3 triliun, unit usaha syariah Rp 16,2 triliun, dan BPR syariah Rp 2,5 triliun. Total aset ini sekitar tiga persen dari total aset perbankan nasional,” kata Mulya. [was/hidayatullah.com]