Hidayatullah.com—Anggota DPR Nurhayati Ali Assegaf menyesalkan sikap Kepolisian RI yang dinilai terlalu reaktif dengan mengeluarkan perintah siaga untuk mengantisipasi aksi balas dendam pengikut pimpinan Al-Qaidah Usama Bin Ladin di Indonesia.
“Polisi terlalu over reaktif terhadap kematian Usamah. Tidak perlu seperti itu lah,” kata Nurhayati saat dihubungi di Jakarta, Selasa (4/5).
Ia juga mempertanyakan sikap kepolisian yang terlalu over reaktif tersebut.
“Kenapa seperti itu? Apakah Indonesia ini benar-benar sarang teroris? Apa sangkut pautnya dengan berita kematian Usamah tersebut? Indonesia adalah negara berdaulat, bermartabat. Malaysia saja tidak peduli dengan berita kematian Usamah itu,” kata Nurhayati.
Apa yang disampaikan oleh Mabes Polri tersebut membuat suasana di tanah air semakin tak karuan.
“Apalagi Indonesia sedang menggelar KTT ASEAN. Indonesia butuh investor untuk membangun negeri ini. Pernyataan Mabes Polri itu membingungkan dan membuat suasana di tanah air tak karuan. Seharusnya Polisi pandai-pandai, jangan sampai membingungkan masyarakat,” kata Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar-Parlemen DPR RI itu.
Ia juga tidak yakin akan kebenaran tewasnya Usamah Bin Ladin.
“Saya gak yakin Usamah tewas. Apa benar demikian, tewasnya di mana, jasadnya saja kita tidak tahu dan tak pernah diperlihatkan secara jelas,” ujar dia.
Sebelumnya, Kepolisian Negara RI mengambil langkah antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya tindakan-tindakan balas dendam pasca tewasnya teroris yang paling dicari di dunia Usamah bin Ladin.
“Polri tentunya harus mengantisipasi kemungkinan terjadinya tindakan-tindakan yang menjadi balas dendam,” kata Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Komjen Pol Ito Sumardi di Jakarta, Selasa.
Kapolri sudah memberi telegram ke seluruh wilayah untuk bersiap-siap memantau, ujarnya.
“Kita tidak mengatakan bahwa ini status siaga satu, tetapi tetap siaga. Semua tempat yang mungkin kepentingan-kepentingan negara asing harus kita lindungi selama di sini,” kata Ito.
Kabareskrim mengharapkan, jangan sampai nanti negara justru malah rugi, karena keterkaitan Usamah dengan gerakan yang ada di Indonesia.
“Negara kita jangan sampai menjadi ajang balas dendam, apa pun yang terjadi kita harus menjaga dulu negara, agar situasi tetap kondusif,” kata Ito.
Namun, Ito tidak menyampaikan secara pasti dari kelompok atau gerakan mana di Indonesia yang harus diwaspadai pascatewasnya pimpinan Al-Qaidah itu.
“Beberapa gerakan dan kelompok-kelompok yang selama ini terjadi tentunya harus kita waspadai bersama. Kepentingan negara asing atau warga asing menjadi tanggung jawab bagi Polri dan seluruh komponen masyarakat untuk mengamankan,” kata Ito.*