Hidayatullah.com–Seminggua setelah dideklarasikan keberadaannya, Majelis Ukhuwah Sunni Syiah (MUHSIN) Jawa Barat langsung menggelar hajatan “Festival Seni Budaya Islam” yang resmi di buka hari Selasa (26/7/2011) di Gedung Landmark Kota Bandung dan akan berlangsung hingga Kamis (28/07/2011).
Kegiatan yang berlangsung atas kerjasama Kedutaan Besar Iran dengan Muhsin Jabar yang didukung penuh Yayasan Muthahari Bandung dan IJABI ini menampilkan berbagai stand kesenian kaligrafi,buku-buku maupun seni pertunjukan. .
Dalam acara pembuakaan tersebut nampak dihadiri Ketua Dewan Syura IJABI, Jalaluddin Rakhmat, Pengurus MUHSIN Pusat Daud Poliradja, Duta Besar Iran untuk Indonesia ,Mahmoed Farazandeh,Atase Kebudayaan Iran, Ali Rabbani serta beberapa pejabat pemerintah Kota Bandung dan Provinsi Jawa Barat.
Dalam sambutan Dubes Iran, Mahmoed Farazandeh mengatakan bahwa kegiatan festival tersebut sangat penting artinya bagi kedua negara.Mengingat keduanya sebagai negara berpenduduk muslim dan sama-sama mempunyai semangat militansi.
Farazandeh berharap kegiatan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan terutama dari unsur budaya yang banyak kemiripannya. Sehingga dapat terjalin lebih erat lagi dikemudian hari. Selain itu kegiatan tersebut dapat dilakukan diberbagai daerah di Indonesia untuk memperkenal budaya Iran di Indonesia.
Di tempat yang sama usai acara pembukaan,Ketua Panitia Festival ,Sutrasno kepada hidayatullah.com menjelaskan,bahwa tujuan dari festival tersebut adalah ingin mengenal seni dan budaya Iran kepada penduduk Kota Bandung dan masyarakat Jabar pada umumnya,
“Dari Indonesia kita akan menampilkan beberapa group nasyid dan seni trasional lainnya, seperti angklung dan yang lainnnya,”ujar Sutrasno yang juga Ketua Muhsin Jabar ini.
Sementara itu saat disinggung soal keberadaan MUHSIN yang masih menjadi kontroversi, Sutrasno menjelaskan bahwa kalimat ukhuwah sudah harga mati. Hal tersebut menurutnya karena Tuhan memerintahkan menjalin ukhuwah bukan hanya sesama Muslim tetapi antar manusia .
Sutrasno sendiri mengaku akan terus berusaha bersilaturrahim dan menjalin kerjasa dengan kalangan Sunni dari berbagai ormas Islam. Kerjasama tersebut meliputi bidang ekonomi, budaya dan pendidikan. Seperti belum lama ini mereka menggelar bakti sosial bagi kalangan kurang mampu.
“Jangan terlalu dipersoalkan, teman-teman yang di Syiah kan dulunya pernah di Sunni,tetapi teman-teman yang di Sunni belum pernah di Syiah.Jadi intinya saling memahami dan belajar saja,” jelasnya.
Senada dengan Sutrasno, Ketua MUHSIN Pusat, Daud Poliradja menjelaskan bahwa sinergi Sunni-Syiah yang ada di Indonesia akan menjadi kekuatan moral yang luar biasa.Sehingga jika disatukan maka Islam akan maju dan berkembang di Indonesia.
Sementara itu, dalam pesan singkatnya kepada redaksi hidayatullah.com, Habib Zein Alkaff yang juga penulis buku “Export Revolusi Syiah ke Indonesia” mengatakan, hubungan Sunni-Syi’ah dalam MUHSIN seolah tak memiliki masalah akidah, padahal yang terjadi tidaklah demikian.
“Kalangan Sunni tidak mungkin bisa hidup berdampingan dalam bingkai ukhuwwah dengan Syiah karena secara aqidah tidak sama,” jelas Alkaf yang juga pengurus PWNU Jawa Timur ini.
Sebelum ini, beberapa ormas Islam Indonesia melakukan protes terhadap kehadilan MUHSIN yang dinilai hanya pernyataan sepihak dan hanya akan dimanfaatkan oleh pihak Syiah agar dakwah mereka bisa diterima di tengah masyarakat Indonesia yang mayoritas Sunni (Ahlus Sunnah).*