Hidayatullah.com–Lebih dari 5 ribu Umat Islam gabungan dari berbagai ormas Islam (NU, Muhammadiyah, FPI, dan lain-lain) hari Selasa, (06/07/2011) kemarin menggerebel lokalisasi Tanggul, Pasirharjo, Kabupaten Blitar Jawa Timur.
Sebelumnya, massa melakukan istighosah di lapangan Tawangsari. Dari situ, masa yang didominasi Banser, Ansor, dan FPI ini bergerak menuju lokalisasi. Aksi tersebut sempat memacetkan arus lalu lintas.
Masa menuntut agar lokalisasi di Tanggul ditutup permanen. Mereka menilai, dari tiga lokalisasi yang ada di Blitar, hanya Tanggul yang dinilai paling bandel. Sejak keluarnya PERDA No 15 tahun 2008, lokalisasi yang menyediakan sekitar 83 WTS ini belum juga tutup. Kabarnya, sejumlah LSM ada di belakanganya.
Masa masuk dari pintu gang depan dan belakang. Sayang, polisi menjaga ketat pintu masuk gang depan dengan membentuk pagar betis. Masa yang lebih banyak dari FPI dan mengenakan penutup wajah ini tidak bisa masuk. Masa pun memaksa polisi. Tapi, polisi tetap bersikukuh. Aksi saling dorong terjadi.
“Pak polisi jangan bela tempat maksiat. Biarkan kami masuk,” teriak salah satu masa.
Ada juga yang berteriak, “Kalau tidak dihancurkan sekarang, kapan lagi? Gagal hari ini akan gagal seterusnya.”
Sementara, dari arah belakang, terlihat ratusan Banser telah masuk. Setali tiga uang, di sana juga dijaga ketat polisi. Namun, mungkin karena jumlahnya sangat besar, mereka bisa masuk hingga ke depan wisma lokalisasi. Terdengar bunyi pecahan kaca dan atap seng yang dihancurkan. Aparat kepolisian tampak menjaga begitu ketat.
Sebagian masa terlihat kecewa karena tidak bisa masuk. Tidak lama kemudian, masa pun membubarkan diri. Kondisi wisma ketika itu sepi, tidak ada orang. Seluruhnya terkunci. Menurut salah satu masa, sejak ahad lalu, penghuni telah meninggalkan tempat karena tahu bila ada akan ada aksi demo besar-besaran. Kendati demikian, masa akan terus memantau dan akan melakukan lagi bila masih beroperasi.
Aksi itu mencuri perhatian masyarakat dan pengguna jalan. Tidak hanya dari kalangan laki-laki, puluhan ibu Muslimat NU juga tampak hadir. Mereka memerhatikan jalanya aksi tutup lokalisasi itu.
Bahkan, sejumlah pejabat daerah juga hadir. Tampak di lapangan Bupat Blitar, Kapolres, Kodim, dan pejabat yang lainnya.
“Paling tidak aksi ini telah menekan penghuni lokalisasi agar mau menutupnya secara permanen,” kata Suudi, Sekreataris Umum MUI Kabupaten Blitar kepada hidayatullah.com.*