Hidayatullah.com–Keuskupan Surabaya Jawa Timur memberikan sinyal mendukung rencana pemerintah menutup lokasi prostitusi. Sinyal ini disampaikan oleh Ketua Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Surabaya, Jawa Timur, Pastor Antonius Luluk Widyawan.
Menurut Antonius, menutup semua tempat prostitusi di propinsi ituadalah langkah penting dalam menghormati martabat manusia.
“Pelacuran tidak sekedar persoalan moral, tetapi juga sosial, ekonomi dan martabat manusia. Terhadap gagasan penutupan kawasan pelacuran, inti persoalannya ialah pelacuran memang patut diakhiri, daripada mendukung perbudakan. Karena praktek tersebut merendahkan kemanusiaan, terutama kaum perempuan, mengakibatkan perbudakan modern dan eksploitasi,” kata Pastor Antonius Luluk Widyawan kepada ucanews.com belum lama ini.
Seperti diketahui, bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur Gubernur Jawa Timur Soekarwo sedang memperisiapak penutupan tempat maksiat terbesar di Indonesia ini.
Menurut Antonius, dengan penutupan tersebut, keuskupan bukan berhenti melakukan kegiatan pastoral, tetapi mendorong umat Katolik di paroki-paroki melakukan kegiatan pastoral, sesuai situasi setempat.
“Kegiatan penyadaran tentang luhurnya martabat manusia, pemahaman gender dan pembelajaran Ajaran Sosial Gereja akan menyadarkan umat beriman untuk peka terhadap situasi di sekitarnya. Kegiatan pemberdayaan ekonomi, lewat Credit Union dan kewirausahaan merupakan bukti nyata untuk memberdayakan mereka,” tambahnya.*
Keterangan: pendukung lokalisasi saat menolak pemasangan kamera CCTV yang dipasang pemerintah di Dolly