Hidayatullah.com–Gerakan dakwah Jamaah Tabligh (JT) selama Ramadhan kembali menyebarkan da’inya ke seluruh kapal Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI). Hal ini merupakan permintaan kerjasama antara pihak PELNI dan Syuro dari Jamaah Tabligh di Indonesia.
Tujuan dari diadakannya program dakwah ini adalah untuk menghidupkan masjid-masjid di kapal laut tersebut, terutama untuk mengingatkan para penumpang kapal untuk tidak menyia-nyiakan ibadah di bulan Ramadhan.
“PELNI meminta kami menyediakan jamaah untuk menghidupkan masjid-masjid terutama saat shalat tarawih di atas kapal mereka,” jelas Cecep Firdaus, Ketua Yayasan Masjid Jami Kebon Jeruk kepada hidayatullah.com, Rabu (25/07/2012).
Sebanyak 2 kapal PELNI yang berangkat menuju Fak-Fak dan Jayapura sudah berlayar dengan tim dari Jamaah Tabligh. Saat ini sebanyak 16 Kapal PELNI akan segera berangkat ke seluruh Indonesia dengan tim dakwah dari Jamaah Tabligh.
“Meskipun kami diberikan fasilitas gratis, namun kami tetap menyuruh da’i kami untuk membayar tiket di kapal PELNI tersebut,” tambah lelaki yang sudah pernah khuruj fi sabilillah (dakwah keluar) ke Pakistan, Thailand hingga Myanmar ini.
Syuro Jamaah Tabligh sendiri memang menolak tawaran fasilitas gratis dari pihak PELNI. Setiap da’i yang ditugaskan untuk berdakwah di kapal PELNI tersebut justru diwajibkan untuk membayar dengan dana pribadinya.
Menurut Cecep, setiap da’i Jamaah Tabligh memang selalu dibiasakan dengan kemandirian dan budaya tangan di atas.
“Biaya untuk satu orang da’i itu kurang lebih 2-3 juta perorang. Dan semua itu kami biasa membiayai dari uang pribadi kami sendiri,” tambahnya lagi.
Masjid Jami Kebon Jeruk sendiri selama Ramadhan mengalami peningkatan keramaian. Setiap hari pengirman da’i untuk berdakwah khuruj sendiri selalu ada. Saat hidayatullah menyambagi markas dakwah mereka di Kebon Jeruk sendiri, terlihat beberapa kelompok jamaah dikirimkan ke Pakistan, Arab Saudi, Yaman dan beberapa daerah lokal di seluruh Indonesia.*