Hidayatullah.com–Dalam memberikan pemahaman maupun mensosialisasikan ekonomi Syariah kepada masyarakat, khususnya kalangan akademisi dan perguruan tinggi, Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) mendapatkan berbagai tantangan, di antaranya berasal dari pemerintah dan perguruan tinggi. Diakui oleh Dewan Pembina IAEI, Prof. Dr. Veithzal Rivai. Ia mengungkapkan bahwa kurikulum Ekonomi Syariah belum direspon banyak perguruan tinggi, baik itu swasta maupun negeri.
“Ternyata prakteknya sekarang kita desain kurikulum sudah kita gratiskan ke Kemendikbud saja tidak ada kita lihat kemudahan itu diberikan, kita tidak lihat sekarang pemerintah itu memberikan kemudahan pada perguruan tinggi. Bayangan kita perguruan tinggi akan merespon tapi ternyata tidak,” ujar pria yang juga menjadi Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) kepada hidayatullah selepas acara pembukaan Muslim World BIZ 2012, Jakarta Convention Center, Kamis (13/09/2012).
Padahal, menurut Ketua Umum KADIN DKI Jakarta, Ir. Eddy Kuntadi selepas konferensi pers Muslim World BIZ 2012 di Graha CIMB Niaga, negara Inggris sudah menyatakan yang namanya pendidikan ekonomi syariah dimulai dari sana.
“Saya hanya mengantisipasi, kenapa justru negara yang penduduk Muslimnya terbesar di dunia atau bahkan yang non Muslim seperti Inggris bahkan sudah men-declare yang namanya pendidikan ekonomi syariah dimulai dari sana, ini sebenarnya kan suatu tantangan, berarti dia melihat suatu pangsa yang besar, produk yang harusnya bisa menjadi produk kita. Orang-orang Indonesia masa harus belajar ekonomi syariah ke Inggris? ini akan menjadi suatu pertanyaan, nah makanya kita ingin melibatkan IAEI,” ungkap Eddy.
Prof. Veithzal menilai seharusnya, masalah ini bisa menjadikan Indonesia sebagai perhatian. Jangan sampai pendidikan ekonomi syariah justru kalah dengan di negeri Barat.
“Inggris saja sebagai non-Muslim sudah men-declare begitu, bahkan pada tahun 2007 itu Inggris mendirikan 3 Bank Islam baru. perkembangannya sekarang sangat pesat bahkan negara-negara Barat sekarang belajar ke Inggris,” tambahnya.*