Hidayatullah.com–Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Slamet Effendy Yusuf menyambut baik inisiatif Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengusulkan protokol antipenistaan agama di forum Sidang Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Usul adanya protokol ini dinilainya merupakan solusi cerdas, agar kasus penistaan agama seperti pembuatan film “Innocence of Muslims” tidak terulang.
“Saya tahu usul ini pasti akan ditentang oleh pihak yang mendewakan kebebasan berekspresi, sekalipun sudah terbukti ekspresi yang mengandung penistaan agama telah mengakibatkan keonaran, ketidaktertiban, serta perpecahan di tengah masyarakat, maupun antarbangsa dan negara,” kata Slamet Effendy Yusuf di Jakarta, Senin (24/9/2012).
Menurut Ketua MUI Pusat ini, protokol antipenistaan agama diperlukan guna mengatur secara jelas mengenai batasan kebebasan, khususnya kebebasan berekspresi, dapat dijaga, bersamaan dengan tetap menjunjung tinggi kesucian dan kemuliaan agama.
“Karena itu, dalam protokoler tersebut harus diterangkan secara jelas batas kreativitas berekspresi agar tidak menyentuh hal-hal yang sensitif yang dapat merusak bukan saja kesucian agama, tapi juga tatanan dan kondisi hubungan antarmanusia atau kemanusiaan,” harapnya, seperti dilansir JPNN.
Selain itu, lanjutnya, juga harus dipertegas kewenangan negara untuk mengambil tindakan atas setiap karya yang menistakan agama. Dengan begitu tidak akan terjadi lagi ada negara yang tidak bisa berbuat apa-apa, sementara ekses karya itu sudah membawa kerusakan yang luar biasa.
“Jadi, apapun hasilnya, Presiden SBY harus menyampaikan usul itu di depan sidang umum PBB. Sebab, ini akan menjadi awal perjuangan panjang. Jangankan protokol antipenistaan agama, protokol Kyoto yang mengatur pemeliharaan lingkungan hidup saja masih ditolak oleh negara superpower tertentu,” imbuh bekas Ketua Umum GP Ansor ini.
Dikatakan, kalau Presiden SBY menyampaikan hal ini di PBB, pasti akan memperoleh simpati luas dari masyarakat Indonesia serta masyarakat internasional yang mencintai dan mengharmoni perdamaian dunia.
Seperti diberitakan Antara, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan mengusulkan protokol internasional antipenistaan agama guna mencegah konflik dan menjaga perdamaian dunia dalam sidang majelis umum PBB di Amerika Serikat.
Menurut Presiden dalam konferensi pers di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu, sesaat sebelum bertolak ke New York, Amerika Serikat , hal itu akan disampaikannya dalam sidang pembukaan majelis umum PBB di New York yang akan dihadirinya, di mana dirinya akan menjadi pembicara dalam sesi debat umum sidang tersebut.
Presiden mengatakan, protokol internasional antipenistaan agama dibutuhkan guna mengantisipasi perkembangan negatif dewasa ini akibat munculnya aksi-aksi penistaan agama yang mendorong reaksi balik yang dapat mengakibatkan konflik dan ketegangan antarpemeluk agama, bahkan antar peradaban.
“Indonesia memiliki kewajiban secara moral untuk menyampaikan pandangan-pandangan ajakan, bahkan barangakali juga ikut memikirkan sebuah protokol internasional, bagaimana kita bisa mencegah atau menolak aksi atau inisiatif yang bisa dikategorikan sebagai penistaan agama, dari satu agama ke agama apapun,” kata Presiden.*