Sebanyak 49 pasang santri mengikuti prosesi acara Pernikahan Mubarak Nasional Hidayatullah (PMNH) yang diselenggerakan Pondok Pesantren Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim, Ahad (16/06/2013) hari ini.
Helatan pernikahan mubarak Hidayatullah ini merupakan rangkaian acara menyongsong Silaturrahim Nasional (Silatnas) yang bertepatan dengan usia ke-40 tahun lembaga dakwah ini.
Ketua panitia pelaksana acara, Abdul Ghofar Hadi, mengatakan gelaran yang telah menjadi tradisi Hidayatullah sejak puluhan tahun itu akan diikuti oleh peserta putra dan putri dari perwakilan dari seluruh nusantara.
Di antaranya ada yang dari Kabupaten Nabire (Papua) Medan (Sumatera Utara), Bali, Sulawesi, Kupang, Provinsi Jambi, Jawa Barat, dan lainnya. Adapun usia peserta laki-laki paling muda adalah 22 tahun, sementara peserta putri 18 tahun.
Usai pernikahan, kata Ghofar, selanjutnya akan ada program Peluncuran Dai Nusantara saat Silatnas Hidayatullah 22 Juni nanti yang diikuti oleh para pengantin.
“Seluruh peserta pernikahan Mubarak kali ini, sebagaimama gelaran serupa yang telah dilakukan sebelum-sebelumnya, semua masih berstatus bujang dan gadis,” kata Ghofar.
Menikahkan puluhan orang tentu saja merupakan sebuah pekerjaan yang tidak ringan. “Untuk pengurusan administrasi peserta kami bekerjasama dengan KUA Balikpapan Timur,” jelas Ghofar Hadi yang juga Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan.
Jika umumnya menikah harus mengeluarkan biaya jumbo baik untuk mahar, resepsi acara, dan sejumlah pernak-pernik lainnya yang tak jarang sangat memberatkan mempelai. Ini berbeda dengan yang menjadi tradisi di Hidayatullah. Kata Ghofar, pernikahan mubarak Hidayatullah justru semaksimal mungkin meringankan peserta.
“Cukup menyerahkan dua juta rupiah. Jumlah itu sudah termasuk mahar, pakaian masing-masing kedua mempelai, pengurusan surat-surat administrasi ke KUA, dan konsumsi pembinaan pra nikah peserta selama 15 hari,” jelas Ghofar Hadi.
Pantauan hidayatullah.com, saat ini masjid Ar Riyadh dan alun-alun mempelai wanita Ponpes Hidayatullah Balikpapan dipadati lebih seribu orang. Termasuk di antaranya keluarga peserta mempelai pengantin.
Ketua Yayasan Hidayatullah Balikpapan Zainuddin Musaddad dalam sambutannya mengatakan, peserta pernikahan usai menikah akan langsung mendapatkan amanah dakwah dab pengabdian ke tengah masyarakat.
Pernikahan massal mubarak Hidayatullah digelar kali pertama pada 6 Maret 1977 yang diikuti oleh 2 pasang santri yaitu Abdul Qadir Jailani dengan Nurhayati dan Sarbini Nasir dengan Salmiyah.
Setelah yang pertama, tradisi itu terus berlanjut mulai dari 4 hingga puluhan pasang. Puncaknya adalah saat Hidayatullah menggelar pernikahan serupa sebanyak 100 pasang santri tahun 1997 yang dihadiri oleh Guru Bangsa, B.J. Habibie dan sejumlah tokoh nasional lainnya masa itu.*