Hidayatullah.com–USAI sholat Isya berjamaah, Joko segera berdiri dan mengumumkan kepada seluruh warga untuk kerja bakti meratakan tanah timbunan masjid.
Beberapa saat kemudian, warga sudah berkumpul untuk bersama-sama kerja bakti meratakan tanah timbunan pada pembangunan masjid desa tersebut.
Joko larut dengan cangkulnya meratakan tanah, begitu juga warga yang lain sangat antusias untuk meratakan tanah walaupun jam sudah menunjukkan pukul 22. 00 WITA.
Selepas kerja bakti, Joko kembali berkeliling desa untuk melihat aktivitas warganya. Ia mengunjungi komunitas nelayan tangkap yang ada di pesisir pantai desa Pakowa Bunta.
Kegiatan keliling desa setiap malam sudah menjadi rutinitas Joko sejak terpilih menjadi kepala desa tiga tahun lalu. Ia berharap dapat mengetahui kondisi warganya pada malam hari.
“Saya mencontoh Umar bin Khattab yang selalu memperhatikan rakyatnya,” jelasnya.
Adalah Mas Joko Silama, 33 tahun, Kepala Desa Pakowa Bunta, Kec. Nuhon, Kab. Luwuk Banggai. Sosok kepala desa yang masih muda namun cukup produktif dan visioner yang merupakan salah satu kepala desa terbaik yang ada di propinsi Sulawesi Tengah.
Desa yang dipimpinnya berjarak 165 Km dari pusat kota. Desa Pakowa Bunta merupakan salah satu desa degan komoditi kelapa yang cukup melimpah.
Desa yang terletak diujung Sulawesi Tengah itu memiliki luas 14,5 kilometer persegi dan dihuni oleh 145 KK dengan total penduduk sebanyak 300 jiwa.
Muda dan Visioner
Umurnya masih muda, ketika warga desa mengamanahkan tampuk kepemimpinan desa di pundaknya. Tidak ada yang istimewa dari penampilannya, namun terlihat energik. Paparan sederhana tentang konsep perubahan yang ada di desanya membuat bupati dan gubernur melihatnya sebagai salah satu kepala desa terbaik di Propinsi Sulawesi Tengah.
Berkat sentuhan dan kerja kerasnya dalam merubah pola pikir warga yang semula selalu berkonflik dengan desa tetangga diubah dengan pembinaan dan pemberdayaan ekonomi. Ternyata hasilnya cukup manjur. Baru tiga tahun menjadi kepala desa perubahan begitu tampak di desa Pakowa Bunta, Kecamatan Nuhon, Kabupaten Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah.
Joko memetakan pemberdayaan dengan sistem cluster sesuai dengan kemampuan warganya. Bagi warga yang terbiasa mengelola empang (tambak) maka dibuatkan pemberdayaan budidaya ikan air tawar.
Tidak tanggung-tanggung, Joko menyiapkan lokasi seluas 15 hektar dan 64 KK tinggal di lokasi budidaya ikan air tawar.
“Jadi kalau para nelayan ini sudah berhasil saya tinggal minta ikan sama mereka,” ujar alumnus magang di Jepang untuk pertanian ini.
Pun juga untuk warga yang bertani, Joko amanahkan mereka untuk berternak sapi. Awalnya hanya 20 ekor, setelah berjalan 4 tahun kini menjadi 85 ekor.
“Alhamdulillah, berkat ketekunan warga sapi yang semula berjumlah 20 ekor kini menjadi 85 ekor,” ujar Joko.
Selain itu, bagi warganya yang nelayan, ia buatkan komunitas nelayan ikan tangkap. Mereka ditempatkan di sepanjang pesisir desa. Ada 10 KK yang masuk dalam komunitas nelayan yang diberdayakan oleh Joko.
Sedangkan untuk ibu-ibu Joko membuatkan pemberdayaan ekonomi bagi komunitas ibu-ibu.
“Di sini banyak tempurung kelapa, jd sangat cocok untuk ibu-ibu mengolah terpurung kelapa menjadi arang,” ujar Joko.
Tak hanya olahan arang dari tempurung kelapa, Joko pun mengusahakan untuk pengolahan keripik pisang dan stik tulang ikan.
“Untuk stik tulang ikan ini sangat khas, kami membutuhkan support untuk pengolahan dan pemasaran produk tersebut,” harap Joko.
Untuk membuat stik tulang ikan, Joko langsung keliling untuk membeli tulang ikan dari daerah penghasil ikan di Luwuk.
Mereka heran kenapa saya membeli tulangnya, sementara mereka membuat olahan dari daging ikan, seperti abon. Ketika pameran yang diadakan pemerintah kabupaten Luwuk Banggai, justru olahan stik tulang ikan Joko yang menjadi favorit. Joko pun dapat kesempatan untuk belajar ke Palembang, Sumatra Selatan.
“Ini memang kerja berat, tapi kalau saya sekedar omongan (teori) dan tidak dibarengi dengan kerja, usaha dan doa ini akan sangat sulit,” terang suami Wigiati ini.
Suatu ketika ia didatangi oleh warganya yang minta dicarikan kerjaaan. Katanya bisa bertani, akhirnya Joko pun mendatangi warga yang memiliki kebun tapi tidak diolah untuk bisa diolah.
Gayung pun bersambut, warga yang mencari pekerjaan langsung bisa bekerja dengan menggarap kebun warga yang tidak di olah. Ada yang datang lagi untuk minta pekerjaan, Joko punya seekor kambing. Ia pun langsung serahkan kambingnya untuk dipelihara. “Saya ingin warga saya semua bisa bekerja,” ujarnya.
Awalnya Kerja di Perusahaan
Sebelum menjadi kepala desa Joko bekerja di perusahaan budidaya ikan Sentral Sari Windu. “Saya terobsesi karena tidak ada satupun anak di kampung yang diterima pada perusahaan tersebut,” jelasnya. Ia diterima, beranjak dari nol, mulai dari membersihkan air kolam hingga akhirnya ditempatkan pada bagian laboratorium.
Saya mengajukan permohonan pengunduran diri, tapi tidak diterima. Akhirnya saya dirumahkan selama 1, 5 tahun tapi tetap menerima gaji. Karena sang istri tidak mau terima uang yang bukan hasil kerja, maka saya langsung keluar dari perusahaan.
“Saya lebih memilih mengabdi untuk warga desa.”
Berbagai aktivitas ia lakukan di desanya, ia memulai ikut pada Taruna Tani dan menjadi penyuluh pertanian swadaya. Ia pun ikut pada kegiatan PNPM mandiri pada program pemberdayaan ekonomi, hingga akhirnya warga desanya menganamahkan ia untuk menjadi kepala desa.
Joko sadar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tentu tidak cukup hanya dengan mengandalkan tunjangan kepala desa. Tapi ia punya keyakinan bahwa ketika bisa memberikan manfaat kebaikan untuk warga, Allah juga akan memberikan kebaikan kepada ia dan keluarganya.
Sinergis bersama BMH
Meskipun demikian Joko yang merupakan Alumni magang Jepang 2002 di Propinsi Nigata, Jepang selama 9 bulan untuk program pertanian dari Kanwil Pertanian Propinsi Sulteng itu pun masih belum tenang. Menurutnya ekonomi tanpa dakwah sia-sia.
“Alhamdulillah kini datang BMH dengan program yang sangat cocok dengan program desa kami, yakni pemberdayaan. Dengan ini, maka lengkaplah sudah program di desa Pakowa Bunta ini. Warga hidup ekonominya dan semarak dakwahnya,” ujarnya.
Program pemberdayaan yang diinisiasi Baitul Maal Hidayatullah (BMH) itu sendiri juga merupakan hasil kerjasama dengan Bank Permata Syariah dan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI).*