Hidayatullah.com–Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta menilai perlunya menghilangkan ketegangan antara ideologi dalam kancah politik di Indonesia. Menurutnya saat ini kondisi heterogen di Indonesia belum bisa dilepaskan dari ketegangan segitiga.
“Ada ketegangan segitiga antara Islam, modernitas dan keindonesiaan,” jelasnya dalam pengajian bulanan di Kantor PP Muhammadiyah di Jalan Menteng Raya 62 Jakarta, Jum’at (03/01/2014) kemarin.
Anis Matta juga menyampaikan pesan terhadap kekhawatiran akan penegakan syariat Islam. Menurutnya pertanyaan apakah partai-partai Islam akan menegakkan syariat Islam atau tidak adalah bagian dari reaksi dari ketegangan tersebut.
“Padahal Bung Karno sudah berusaha mencairkan ketegangan itu dengan ide Nasionalis, Agama dan Kominis (Nasakom) nya,” jelas lelaki lululusan LIPIA ini.
Karena itu, untuk melihat Indonesia dimasa yang akan datang. Ia menilai perlu mendekatkan antara Islam, modernitas dan keindonesiaan. Untuk itu perlu memahami fase-fase perjalanan dari bangsa Indonesia itu sendiri.
Menurut Anis, pada masa Orde Lama, Indonesia disibukkan dengan membangun pondasi dari kekuatan politiknya. Pada masa Orde Baru, Indonesia dihadapkan pada pengembangan kekuatan ekonominya. Sementara era reformasi, bangsa ini dihadapakan pada kekuatan civil society yang ternyata beraneka ragam latar belakang.
“Sementara pada saat yang sama ledakan globalisasi juga terjadi di dunia international,” tambahnya.
“Lalu lahirlah generasi-generasi yang tidak mengerti apa yang pernah terjadi pada masa Orde Lama dan Order Baru,” tandasnya.
Karena itu menurut Anis, sulit bagi Indonesia untuk berkembang jika kekuatan politik di dalamnya masih terjebak pada ketegangan ideologi tersebut. Padahal untuk siap masuk dalam persaingan global dibutuhkan persiapan yang menglobal.
“Saat ini kita perlu remapping (memetakan ulang,red) kekuatan global, dari situ kita bisa mengukur bagaimana peran Indonesia dalam kancah internasional,” tegasnya.
Menurutnya, proses perubahan ketegangan ideologi itu sendiri bisa dimulai dari satuan terkecil masyarakat yaitu individu. Individu sebagai elemen terkecil masyarakat merupakan titik vital dari perubahan Indonesia itu sendiri.
Adapun tiap individu itu lagi menurut Anis, bisa dirubah melalui tiga hal.
Pertama merubah cara berpikirnya, kedua merubah cara mengelola perasaannya. Dan ketiga perubahan dua hal itu akan merubah setiap tindakannya.
“Nah tindakan yang dilakukan berulang-ulang itulah kepribadian, dan kumpulan dari perpaduan kepribadian itulah yang melahirkan kekuatan dari kebudayaan,” jelasnya.
Guna menguatkan argumentasinya Anis Mata mengambil contoh generasi pertama Islam yang dipimpin Rasulullah Muhammad Shalalallahu Alaihi Wassalam.
Menurutnya, bukan kuantitas kepribadian yang dibutuhkan Indonesia. Untuk menghilangkan ketegangan ideologi itu diperlukan kualitas dalam sebuah kepribadian.
“Dari seratus orang yang berpikir global tersebutlah, 1500 tahun setelahnya kita masih bisa menikmati Islam sebagai kenyakinan kita,” ujarnya. *