Hidayatullah.com– Mantan Ketua Dewan Pendidikan Jatim Prof. Daniel M. Rosyid PhD mengatakan bahwa dunia internet sekarang telah menggerogoti dinding-dinding sekolah.
Fenomena intenet menjadikan sekolah tidak dijadikan satu-satunya tumpuan dalam menuntut ilmu dan mendidik karakter anak.
“Sekolah hanya tempat makan siang, sementara di rumah ada makan pagi dan makan malam, artinya pendidikan sesungguhnya ada pada keluarga,” ujar dosen Institute Teknologi Sepuluh November (ITS) ini meminta masyarakat lebih memperhatikan keluarga.
Daniel menambahkan bahwa konsep pendidikan Indonesia saat ini berkiblat di Barat. Sementara kehidupan Barat tak sama dengan kehidupan di Indonesia.
Di Barat pada tataran kehidupan sosial rumah tangga atau keluarga telah hancur, sehingga mereka menumpukan pendidikan anak-anaknya pada sekolah.
“Di dunia Barat keluarga atau rumah tangga itu sudah hancur, sehingga mereka hanya mengharapkan sekolah sebagai pusat pendidikan,” ucap lulusan dari Dept. of Marine Technology, the University of Newcastle upon Tyne, Inggris ini.
Karenanya ia meminta agar Indonesia tidak boleh seperti dunia Barat yang menghilangkan peran keluarga dalam menididik anak. Karena sesungguhnya keluarga merupakan tempat pendidikan utama untuk menumbuhkan karakter anak.
Daniel khawatir dengan tingginya angka percerain di Indonesia yang menurutnya mencapai 35 kasus perjam bisa mengantarkan negara ini seperti negara-negara Barat.
Untuk itu ia menghimbau kepada pemerintah untuk kembali memperhatikan keluarga Indonesia.
“Laju percerain di Indonesia mencapai 35 kasus perjam, ini sangat mengkhawtirkan. Jadi semestinya pemerintah harus lebih memperhatikan keluarga Indonesia.*