Hidayatullah.com—Ketua Umum Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) KH.Athian Ali mengatakan, alasan dukungan para pasangan Prabowo-Hatta dalam pembacaan “Maklumat FUUI” No.01/M-FUUI/VI2014 tentang Pemilihan Presiden Juli 2014, semata-mata karena kemaslahatan.
Menurutnya, hal ini terkait dengan berbagai pernyataan tokoh-tokoh pendukung pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Hatta yang dinilai banyak merugikan umat Islam.
Dukungan ini disampaikan dalam pembacaan “Maklumat FUUI” No.01/M-FUUI/VI2014 tentang Pemilihan Presiden Juli 2014, Rizal yang didampingi langsung Ketua Umum FUUI,KH.Athian Ali dan Ketua Politik dan Strategi FUUI HM.Rizal Fadilah,SH dan H.Herman Ibrahim
Menurut Athian Ali, di antara pernyataan tokoh pendukung pasangan Jokowi-JK adalah gigihnya memperjuangkan pencabutan Tap MPRS No.XXV tahun 1966 mengenai larangan faham komunis. Juga menolak Perda Syariat Islam serta keberpihakannya pada faham sesat seperti Ahmadiyah,Syiah dan SiPILI yang dinilai sebagai kemudharatan pada umat Islam.
“Juga belum lama ini adanya kenginan untuk menghapus kolom agama pada KTP,mengawasi khatib Jumat,menolak pemblokiran situs porno dan keinginan untuk mencabut SKB 2 Menteri soal tata cara pendirian rumah ibadah adalah bukti nyata ketidakberpihakkan pada umat Islam,” jelas Athian hari Senin (30/06/2014) di sekretariat FUUI Masjid Al Fajr Kota Bandung.
FUUI menilai bahwa dalam konteks keumatan,dengan tidak menafikan kelemahan yang ada pada pasangan Capres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa ,maka pasangan Capres Joko Widodo-Jusuf Kalla dinilai memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi.
“Hal ini bisa dilihat dan dibaca sebagaimana yang ditampakan oleh pernyataan sikap politik serta maneuver-manuver yang dibangun maupun yang dinyatakan oleh tim sukses atau para pendukungnya,” jelas Rizal.
Untuk itu meski FUUI enggan terjebak pada politik praktis dan dukung mendukung dalam Pilpres namun kali ini pihaknya mengaku terpanggil untuk menyelamatkan umat.
Karena menurut Athian, semua rencana dan keinginan serta kecenderungan politik pasangan Jokowi-JK dinilai dapat meresahkan dan mengancam eksistensi umat Islam serta berpotensi menciptakan iklim sentimen keagamaan yang dapat bermuara pada konflik horizontal.
Dalam pembacaan maklumat yang dilakukan menjelang shalat Ashar tersebut juga dihadiri beberapa pengurus harian FUUI dan beberapa jamaah.*