Hidayatullah.com– Hari Selasa, 19 Agustus 2014, bertempat di di Rumah Damai Indonesia (RDI) yang terletak di bilangan Jatipadang, Jakarta, digelar silaturrahim dihadiri oleh sejumlah pengurus Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia, IndonesiaTanpaJIL (ITJ) dan Anggota DPD terpilih, Fahira Idris.
Acara yang berlangsung sederhana namun akrab tersebut diselenggarakan untuk menyamakan persepsi dan langkah dalam menghadapi berbagai permasalahan umat, terutama seputar propaganda gerakan lesbian, gay, bisexual dan transgender (LGBT).
“Buku ini telah dipermasalahkan sejak tahun 2012. Artinya, sudah dua tahun lebih propaganda ini tersebar luas ke rumah-rumah kita sementara tidak semua orang mengetahuinya,” ungkap Fahira Idris yang merasa prihatin mengapa penerbit membiarkan propaganda semacam itu.
Menurutnya, sejak ditemukannya propaganda LGBT dalam buku Why? Puberty yang diterbitkan oleh salah satu penerbit besar di tanah air, masalah ini memang kembali mendapat perhatian dari khalayak ramai.
“Penerbit mengaku teledor, tapi bagaimana pun kita harus menyatakan sikap,” ujarnya lagi.
Sementara itu, Rita Soebagio, pemerhati psikologi yang menjadi salah satu utusan dari AILA dalam pertemuan ini, mengungkapkan bahwa permasalahan LGBT memang harus dihadapi dengan pendekatan simpatik.
“Permasalahan seksualitas ini adalah masalah yang sensitif dan kompleks bagi siapa saja. Jika kita menekan kaum LGBT ini, mereka justru akan bersikap defensif dan mencari pembenaran. Kalau demikian, maka mereka akan sulit disembuhkan,” katanya.
Sabriati Aziz, salah satu pengasuh Ponpes Hidayatullah, Depok, yang juga aktif di AILA berpandangan bahwa edukasi terhadap seluruh elemen masyarakat memang mutlak diperlukan.
“Banyak di antara mereka yang tidak terjebak dalam LGBT namun membelanya karena tidak memiliki pengetahuan yang memadai, baik dalam hal agama maupun yang lainnya,” ujar beliau dengan mantap.
ITJ, yang dipandang cukup berpengalaman dalam ranah dakwah kepada masyarakat awam, diharapkan mengambil peranan besar dalam menyebarluaskan pemahaman yang benar untuk merespon propaganda LGBT ini. Di masa depan, AILA berharap dapat berpartner bersama ITJ untuk menggelar berbagai seminar dan kajian untuk membahas masalah yang satu ini.
“Selama bulan September hingga November tahun ini, insya Allah ITJ akan menggelar Sekolah Pemikiran Islam. Pesertanya diambil dari para aktivis dakwah kampus di wilayah Jabodetabek.
Salah satu materi yang diberikan adalah seputar konsep gender, yang merupakan pangkal permasalahan wacana LGBT ini,” ungkap M. Irfan Nail, Ketua Penyelenggara Sekolah Pemikiran Islam (SPI) ITJ.
Menyadari kompleksitas permasalahan yang dihadapi, seluruh elemen yang hadir dalam silaturrahim ini setuju untuk menggagas kerja sama yang lebih erat dan terarah dengan mengadakan pertemuan-pertemuan berikutnya secara rutin. Sinergi ini juga akan diperluas dengan mengadakan audiensi bersama tokoh-tokoh masyarakat dan pemerintah.*/Akmal [Jakarta]